DPRD Kaltim Desak Perhatian Serius Untuk Guru TPA: “Mereka Pondasi Peradaban”
SAMARINDA - Di balik hiruk pikuk pembangunan infrastruktur dan pendidikan formal, suara para guru Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) nyaris tak terdengar. Padahal, mereka memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi muda sejak usia dini. Namun, perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka masih sangat minim.
Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, La Ode Nasir, angkat bicara soal ini. Ia menilai bahwa guru TPA seharusnya mendapat tempat khusus dalam peta pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Kaltim, bukan terus dibiarkan berjuang tanpa kepastian kesejahteraan.
"Para guru TPA bekerja dalam diam, tapi hasil dari pengajaran mereka menentukan masa depan karakter anak-anak kita. Mereka bukan sekadar mengajarkan huruf Arab, mereka membentuk karakter anak bangsa," kata La Ode, Senin (26/5).
Menurut La Ode, banyak guru TPA yang tetap mengajar meski tidak mendapatkan gaji tetap. Sebagian besar hanya mengandalkan sumbangan sukarela dari masyarakat sekitar. Namun semangat mereka tak pernah luntur.
"Di saat kita bicara soal revolusi mental dan pembangunan karakter, peran guru TPA justru sering terabaikan. Ini ironi yang tak boleh dibiarkan," tegasnya.
Tuntutan Pengakuan dan Perlindungan
La Ode menekankan bahwa jika pemerintah daerah serius ingin mencetak generasi religius dan berakhlak mulia, maka perhatian pertama harus ditujukan kepada para pendidik agama. Menurutnya, tanpa perlindungan dan pengakuan yang jelas terhadap guru TPA, pembangunan karakter bangsa akan timpang.
"Kita sering bicara soal karakter, soal moral, tapi lupa pada siapa yang mengajarkannya. Guru TPA ini adalah pondasi peradaban, dan sudah saatnya mereka mendapat perlindungan yang nyata, bukan sekadar terima kasih di acara seremonial," pungkasnya.
DPRD Kaltim pun mendorong agar program insentif dan dukungan anggaran untuk guru TPA dimasukkan dalam kebijakan pembangunan SDM ke depan. (adv dprd kaltim)

Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, La Ode Nasir. (IST)