Kini PPU Punya Perpustakaan Keren
POJOKALTIM.CO.ID, PENAJAM PASER UTARA - Sebagai wilayah yang merasakan dampak dari pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengidamkan perpustakaan yang memainkan peran sentral pengetahuan. Peresmian gedung layanan perpustakaan umum daerah merupakan momentum awal menuju arah tersebut.
"Kami harapkan adanya IKN menjadi pemicu semangat anak-anak bahwa membaca dan literasi itu penting," ujar Pj Bupati Penajam Paser Utara Makmur Marbun ketika bersama Kepala Perpustakaan Nasional meresmikan gedung layanan perpustakaan umum daerah, Kamis (16/11).
Literasi tidak bisa kita abaikan karena hal tersebut kunci kemajuan bangsa. Dengan kemampuan literasi yang baik masyarakat akan siap menghadapi perkembangan zaman.
"Literasi bukan baca tulisan saja tapi juga pemahaman pengetahuan. Karena literasi memenuhi kemampuan aspek individu dalam urusan kerja dan kehidupan," lanjut Marbun.
Gedung yang diresmikan di bumi Serambi Nusantara diharapkan Makmur Marbun bukan hanya menjadi tempat penyimpanan buku, namun perlu dilihat juga indeks kunjungan masyarakat dan anak sekolah. Kalau menurun, tentu akan dievaluasi.
Perpustakaan bukan soal buku dan teknologi, tapi juga berbicara tentang orang-orang yang mendukungnya. Termasuk keberadaan orang-orang pendidik, seperti civitas akademika.
"Sarjana harus buka membuka lapangan kerja. Kalau penghasilan rendah, income pasti rendah," terang Kepala Perpusnas Syarif Bando.
Itulah kenapa kalangan pendidik ikut bertanggungjawab, karena Indonesia saat ini sudah tertinggal dengan negara kawasan ASEAN apalagi Jepang dan Korea Selatan. Jepang menjadi negara maju karena telah memilih dirinya sebagai negara produsen. Sedangkan, Indonesia masih lebih suka menjadi negara konsumen.
"Pengetahuan merubah dunia. Dan pengetahuan bisa diperoleh dengan membaca," imbuh Bando.
Dalam sesi talkshow, Pustakawan Utama Perpusnas Abdullah Sanneng menjelaskan seharusnya kondisi saat ini tidak lagi berkutat pada kondisi pemberantasan buta aksara. Dulu, semasa era pra kemerdekaan Indonesia memang dihadapkan dengan tingginya buta huruf yang mencapai 90 persen lebih.
Namun, seiring pembangunan fisik dan sumber daya manusia disparitas tersebut sudah semakin kecil. Kenapa? Karena perguruan tinggi sudah banyak bermunculan. Setidaknya ada peran para pendidik yang membantu mengurangi kesenjangan buta huruf.
"Justru peran perguruan tinggi mesti diubah. Orientasi dunia perguruan tinggi saat ini adalah bagaimana menciptakan barang atau jasa bagi kemaslahatan masyarakat. Ubah mindset kita kalau literasi masih sebatas kemampuan baca tulis," pungkasnya. (adv/azr/DPK Kaltim)
