Literasi Tidak Mudah Terpengaruh Dengan Hoaks

POJOKALTIM.CO.ID, JAKARTA - Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan, jelang pemilihan umum biasanya berita-berita hoaks semakin gencar di media sosial.

Perpustakaan berperan menjadi benteng penangkal hoaks. Jelang Pemilu 2024, perpustakaan harus menjadi benteng penangkal hoaks. Tujuan semua partai politik sangat bagus yakni untuk mensejahterakan masyarakat. Namun, ada yang miss, biasanya dari lawan politik yang disebarkan di medsos. Orang tahu literasi tidak mudah terpengaruh dengan hoaks. Dia pasti membaca, meneliti, mencari dari berbagai sumber dan sebagainya,” papar Syarif Bando usai membuka Rakornas Perpustakaan 2023, di Hotel Pullman Jakarta, Senin (06/03/2023)

Rakornas kali ini difokuskan untuk perpustakaan berbasis inklusi sosial dibutuhkan dalam kondisi pemulihan ekonomi masyarakat.

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS) menjadi basis dalam mewujudkan pembangunan perpustakaan dan peningkatan budaya literasi.

Program TPBIS menjadi tema utama dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan Tahun 2023 yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). Tahun ini, kegiatan penguatan kolaborasi dan komitmen antarpemangku kepentingan bidang perpustakaan tersebut mengusung temaTransformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk Kesejahteraan, Solusi Cerdas Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pasca Pandemi COVID-19.

Syarif Bando menyatakan, pada masa kini, perpustakaan berperan aktif dalam menjangkau masyarakat, bukan sekadar ruang untuk menyimpan buku. Dia menambahkan hal ini selaras dengan paradigma baru perpustakaan di mana sebesar 10 persen perpustakaan menjalankan fungsi manajemen koleksi perpustakaan, 20 persen untuk manajemen ilmu pengetahuan, dan 70 persen untuk mentransfer ilmu pengetahuan. Dalam ajang Rakornas, pihaknya melakukan penyamaan persepsi dengan dinas perpustakaan daerah mengenai perpustakaan dan literasi.

"Jadi memang kita yang paling penting adalah mengedukasi teman-teman kepala dinas di provinsi, kabupaten/kota, untuk menyamakan persepsi bahwa pekerja perpustakaan sudah lama meninggalkan pekerjaan teknis yang namanya katalogisasi, klasifikasi," jelasnya.

Pada masa kini, perpustakaan bertransformasi menjadi inklusif. Sejak 2018, Perpusnas menjalankan program TPBIS yang merupakan program prioritas nasional dengan dukungan dari Bappenas RI. Melalui program TPBIS, perpustakaan bertransformasi menjadi ruang publik bagi masyarakat untuk berlatih secara kontekstual, berlatih keterampilan dan berbagi pengalaman.

"Di sinilah pentingnya kehadiran buku-buku ilmu terapan dan tepat guna untuk masyarakat dalam mengembangkan life skills dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya," ujarnya. (adv)

Share: