Mogok? Salahkan Motormu...

Penulis: Tim Redaksi

Seorang kawan, duduk manyun di pojokan salah satu kedai kopi di sudut kota. Segelas plastik kopi dengan isinya yang hampir habis, tergeletak begitu saja di depannya. Sementara, satu asbak penuh puntung rokok berada persis di samping gelas, menandakan bahwa ia cukup lama di kedai kopi modern itu.

"Habis hampir 500 ribu aku om, nguras bak motor gegara diisi Pertamax. Padahal dana itu kusiapkan untuk beli shock belakang motor yang olinya bocor," keluhnya kepadaku yang baru saja tiba.

"Apes....sial sial," sambatnya.

Ya, kejadian itu banyak menimpa kepada banyak pemilik kendaraan yang roda dua saja. Di kota ini, Samarinda, belakangan memang marak di media sosial yang mengunggah kejadian serupa. 

Usai mengisi di SPBU, kendaraan mereka ngambek. Mesinnya brebet. Mau tak mau mereka lansung mendorong kendaraannya ke bengkel terdekat. Keluhannya sama: usai mengisi motornya dengan Pertamax. Yang uniknya, bukan beli di pinggir jalan, tapi di SPBU yang nyata-nyatanya merupakan penyalur resmi produk Pertamina. 

Aparat pemerintah pun turun tangan. Kepolisian sampai sidak ke sejumlah SPBU yang diduga mengoplos, eh di blend, ah sudahlah apapun pemilihan kata itu terserah saja, belum atau tidak menemukan indikasi adanya perbuatan curang. Bahkan, gubernur pun turut melakukan sidak ke SPBU. 

Bagi sebagian netizen, tindakan itu agak aneh dan kurang maksimal. Bahkan ada yang menduga, sidak itu bukanlah sidak. Sebab fakta yang ditemukan berbeda dengan yang dikeluhkan konsumen. 

Sudah jelas di beberapa konten media sosial, BBM yang dikuras menunjukkan warna tidak pada umumnya. Bahkan parahnya, sampai menimbulkan dan meninggalkan kerak pada bagian tangki.

Makanya sidak yang dilakukan aparat dan pemerintah, dinilai tak menenangkan konsumen. Ya itu tadi, saat sidak tidak ditemukan adanya kecurangan. Semua normal. Semua sesuai prosedur. Semua baik-baik saja.

Inilah yang membuat netizen bertanya-tanya. "Kok bisa, kalau memang murni, kenapa motor atau mobil jadi brebet? Apakah benar sidak atau sidak yang diinformasikan terlebih dahulu ke pihak SPBU?"

Entahlah, kita belum ada bukti untuk membuktikan bahwa itu memang sidak. Tapi, mari kita anggap dan berprasangka baik saja bahwa hal itu memang sidak atas keresahan konsumen.

Seharusnya, yang di sidak jangan lah langsung ke SPBU. Mungkin sebaiknya, sidak lah semua proses distribusi BBM itu dari Pertamina hingga ke SPBU. Bukankah ada jalur panjang yang dilalui. Nah, jalur itulah yang semestinya diperiksa dan diverifikasi bahwa semua sudah benar sesuai aturan.

Dari pemberitaan di media, sidak tidak menemukan adanya oplos mengoplos BBM. Semua berjalan sebagaimana mestinya. 

Yang jadi pertanyaan lagi, mengapa kasus mogoknya kendaraan marak terjadi. Apa kita diharuskan percaya bahwa BBM yang ada di SPBU itu, memang murni. 

Kalau begitu, mungkin sudah saatnya kita menyalahkan produsen otomotif kenapa produknya tidak bisa meminum BBM oplosan. (***)

Share:

Berita Lainnya