Penulis: Tim Redaksi

STY Gangnam Style...

Warga Indonesia lagi hepi. Tentu bukan tentang hasil keputusan MK. Tapi soal Timnas sepak bola U-23 kita yang lanjut ke babak semifinal Piala Asia AFC.

Kalau penulis, memang bukan fanatis berat soal pertandingan sepak bola. Bukan tidak suka

Suka, tapi tidak kayak orang-orang. Toh kalau suka olahraga, paling badminton. Itupun tidak terlalu suka menonton turnamen badminton. Tapi sekarang sudah tak begitu aktif lagi main bulutangkis, meski tim lama sering ajak melalui WA.

Balik ke soal Timnas muda.

Selentingan terdengar 4 orang berkisah penuh semangat soal pertandingan terakhir melawan Korea Selatan. Di temani dua gelas es teh, mereka asyik membahas itu. 

Sudah seperti pengamat saja mereka. Macam-macam dibahas. Mulai dari bagaimana kelanjutan Shin Tae Yong (STY) di Timnas, hingga usulan kepada klub sepak bola lokal untuk beri latihan passing. Sehingga, oppa STY tidak lagi melatih teknik-teknik dasar. Biar oppa fokus terhadap strategi dan teknik bermain hingga lainnya yang mereka anggap sudah bukan ranah STY lagi.

Mereka juga memberi saran agar PSSI meminta STY sharing kepada klub sepak bola lokal tentang apa saja yang harus dilakukan manajemen. Termasuk para manajemen harus memerhatikan asupan gizi para pemainnya. 

Terbukti, kata mereka, STY sangat memerhatikan makanan yang mau disantap anak asuhnya. Jika tidak sesuai nilai gizinya, ia melarang timnya untuk makan. 

Menarik memang diskusi mereka malam itu. 

Oiya, penulis sempat di desk olahraga, waktu aktif di media cetak. Kebetulan, sempat ikut meliput Divisi I hingga Utama. Lupa, tahun berapa itu. Dari sini, penulis sedikit tahu tentang fakta klub lokal di balik lapangan. 

Waktu liputan di suatu daerah, klub yang kami ikuti, sedang latihan ringan. 

Saat itu, suporter lawan datang. Bukan sekadar melihat, tapi juga lontarkan ancaman: "awas saja kalau nanti malam kalian menang". 

Dan benar, malam pertandingan, tim kami bisa meraih skor imbang. Sontak, suporter lawan marah. Macam-macam benda dilempar ke lapangan. Untuk keluar stadion menuju parkiran bus, penulis bersama pemain harus merundukkan kepala di bawah tameng-tameng polisi yang memayungi kami dari  lemparan berbagai benda. 

Tak sampai di situ, ketika perjalanan dari stadion ke penginapan, bus kami masih diiringi suporter yang tak puas timnya raih poin penuh. Mereka kembali melempari bus. Syukurnya, pengamanan polisi saat itu sangat baik. Kami selamat hingga tempat penginapan. Syukurnya lagi, mereka tidak menyusul sampai hotel. 

Di pertandingan tandang selanjutnya, di kota lain, memang tidak ada intimidasi ketika latihan. 

Namun saat bertanding, suporter melempari tim kami dengan macam-macam benda. 

Saya yang berada di pinggir lapangan, langsung bersembunyi di balik pintu belakang ambulance. Panitia kesehatan sampai berteriak kepada suporter untuk tidak melempar saya, sebab saya adalah wartawan, bukan official tim.

Ya, mungkin itu baru secuil dari fakta sepak bola kita. Belum lagi soal yang infonya begitu wasit turun dari pesawat, langsung mendapat entertaint dari official klub kandang. Kurang tahu, jenis entertaint apa yang diberikan. 

Sepak bola kita memang harus berbenah dan dibenahi. Tak sedikit ternyata pemain kita yang berbakat. Jangan sampai talenta mereka rusak dan dirusak karena ekosistem olahraga kita yang kurang benar dan baik.

STY sekarang lagi dielu-elukan. Dibangga-banggakan. Sebab, target yang ia capai sudah terlampaui.

Hebatnya lagi, rasa nasionalisme nya, ia injak-injak pada malam itu untuk memenangkan Timnas. 

Sebuah profesionalitas ia tontonkan malam itu. STY berhasil memulangkan oppa-oppa Tim Korea Selatan yang tak lain adalah tempat sebelumnya yang ia bina.

Tak sia-sia, pencinta drakor dan K-Pop di Tanah Air dibalas STY dengan mengantarkan Timnas masuk semifinal yang belum pernah dirasakan para Timnas U-23 sebelumnya.

STY gangnam style...

Share:

Berita Lainnya