Penulis: Tim Redaksi

Yang Penting Ada Berita

"Kenapa kualitas berita sekarang, baik media cetak maupun media online, kurang berkualitas. Kenapa di media online, satu berita dipecah jadi banyak halaman, mana banyak iklannya lagi...."

Kurang lebih begitu, seorang senior di kampus dan SMA mengomentari postingan saya di media sosial. Postingan itu tentang bagaimana pengalaman dulu sewaktu aktif di lapangan meliput berita. Fotonya, saya pasang reporter muda tengah mewawancarai narasumber sembari menyorongkan ponsel untuk merekam.

Perlu penjabaran panjang untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi, saya coba meringkasnya. Dan saya pastikan, tulisan ini tidak saya pecah-pecah di web berita. Dan saya jamin, pembaca juga tak akan terganggu dengan tampilan iklan-iklan. Soalnya, kami memang tidak bekerjasama dengan Google Adsense. 

Dulu pernah, tapi sebentar saja. Dihentikan sepihak oleh mereka dengan alasan, iklan yang diklik, kami lakukan sendiri. Ya sudahlah. Dengan pertimbangan sangat kecilnya bagi hasil per klik dari Google Adsense, kami putuskan mending kerjasama dengan pemerintahan atau swasta. Lebih mudah, dan lebih terang benderang. Heuheuheu...

Oke, kita bedah dulu jawaban atas pertanyaan seorang kawan di atas tadi.


STRATEGI MEDIA ONLINE

Puluhan maupun ratusan media online baru mungkin terus muncul saban hari. Sedunia. Tidak mengapa. Memang sedang trennya. Apalagi, zaman sekarang dituntut serba cepat, serba instan. Media online lah pilihan pembaca saat ini. Maka, biar saja banyak yang tumbuh. Toh juga nanti akan terseleksi alam. 

Di belantara media online saat ini, tentu tiap perusahaan punya strategi sendiri-sendiri. Mulai dari perlakuan berita, sampai pencarian omset yang merupakan tulang punggung ekonomi perusahaan media.

Ada yang pakai prinsip: "Yang penting ada berita". Soal berisi atau tidaknya berita itu, persoalan ke seratus. Yang penting update. Kalau bisa, update yang paling pertama ketimbang kompetitor. 

Ada juga yang pilih: "Penting ada berita, tapi beritanya harus penting". Umumnya, media begini merupakan konversi dari media cetak yang kemudian bermain juga di online. Eh, kenapa saya kok suka pakai istilah online ketimbang daring? Lebih enak saja sih menyebut atau menulis online. Bukan sok Englihs. Lebih ke suka saja.

Kemudian, ada yang saklak: "Hanya berita penting". Umumnya, ini menerapkan pola berlangganan kepada pembaca yang ingin menikmati sajiannya. Terakhir ini, juga bagian dari strategi mencari omset. Di bagian lain di tulisan ini, akan kita bahas.


REPORTER INSTAN

Kualitas reporter media online tergantung mereka pakai prinsip yang mana soal pemberitaan. Kalau yang penting ada berita, cukuplah rekrut reporter magang dari kalangan mahasiswa atau mereka yang baru lulus sekolah atau kuliah, belum bekerja, namun tertarik dengan dunia jurnalistik. 

Kalau prinsip kedua, biasanya mereka pilih reporter yang memang bisa dan tahu cara menulis berita. Biasanya, direkrut juga reporter yang sudah punya sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Muda.

Nah yang terakhir ini, tidak mau asal sembarang memilih reporter. Selain sudah ber-UKW, reporter juga memang jago mencari, mengolah, dan menuliskan data yang ia kumpulkan di lapangan. Sebab, mereka juga tak mau kehilangan pelanggan. Kan pelanggan itu selektif. Masa sudah bayar mahal, eh dapat berita kering. Maksudnya, berita kering itu, berita yang pembacanya tidak dapat insight apapun usai membacanya.


KUALITAS REPORTER

Lagi-lagi, ini dipengaruhi visi misi pengusaha media online. Tentu, yang hanya qualified saja yang dipilih. Yang punya kemampuan sekadar bisa bikin berita, mungkin hanya diterima di media yang pakai prinsip: Yang penting ada berita. Maka jangan berharap insight apapun ketika membaca media model begini. Mau tahu ciri-ciri medianya? Tak perlu saya sampaikan. Anda-anda mungkin sudah tahu, tapi tidak sadar saja. 

Kualitas reporter ini juga dipengaruhi pola didikan. Di Generasi Milenial tentu beda dengan tipikal karakter Generasi Z. Apalagi dibandingkan generasi sebelum Generasi Milenial.

Zaman saya magang di media cetak, pengkaderan reporter benar-benar luar biasa. Meskipun stressing yang saya dapat itu, masih belum apa-apanya dibanding senior saya. 

Di zaman senior, kata mereka, sampai dilempar flashdisk, karena beritanya kering. Apalagi kalau penugasan tidak dapat. Siap-siap saja kena mental. Jangan harap bisa ke kantor. Dilarang ke kantor sebelum dapat berita penugasan. Redaktur mana mau tahu, penugasan yang diberikan harus dapat. WAJIB hukumnya.

Kenapa begitu? Sebab, selain iklan, media cetak juga menempatkan penjualan koran sebagai peringkat kedua pendapatan omset. 

Maka tak heran, seorang Manajer Pemasaran/Sirkulasi koran, berani berdebat dengan Pemimpin Redaksi yang notabene orang nomor 2 di bawah posisi pemilik perusahaan. Tim pemasaran tahu, mana berita yang menjual, mana yang tidak. 

Kalau debat keduanya tidak ada hasil, maka keputusan terakhir di tangan pemilik perusahaan. Dan tentu, owner pasti memihak tim pemasaran. Sebab, ujung-ujungnya harus cuan. Kalau tidak cuan, bagaimana perusahaan mau bertahan. Di sinilah, para petinggi jabatan di media cetak harus benar-benar bisa meletakkan pada tempatnya soal ego profesi dan jabatannya untuk kepentingan perusahaan. Kepentingan perusahaan nomor satu, kualitas jurnalistik itu nomor pertama. 

Sampai sini sudah bisa menjawab pertanyaan di atas?

Kalau belum, kita lanjut. Tapi mohon maaf, janji saya di awal untuk bikin tulisan ringkas, saya ingkari. Toh, saya bukan pejabat juga. Jadi, tak berdosa bila tidak menepati janji saat calon pejabat kampanye.


STRATEGI MENCARI OMSET

Selain kontrak kerjasama dengan pemerintahan maupun swasta, media online bisa manfaatkan penawaran Google Adsense. Setelah memenuhi persyaratan, secara otomatis, Google akan menempatkan iklan sesuai slot yang disediakan media online. Konten iklannya pun bisa ditentukan sendiri oleh media online. Kalau mau banyak yang nge-klik iklan Google Adsense, izinkan saja dipasang konten berkaitan dengan syahwat. 

Hitungan bagi hasil jenis ini memang berdasar jumlah klik, seberapa lama orang bertahan di halaman tautan klik tersebut. Nilai per-klik pun sangat-sangat kecil. Jika jumlah trafik pembaca cuma ratusan orang saja, jangan berharap banyak. Tapi jika perhari menyentuh puluhan ribu, ya silakan saja coba kerjasama dengan Google Adsense. Sebab, cuannya menggiurkan.

Lantas bagaimana agar Google bisa lebih banyak menempatkan iklan dan agar iklannya ter-klik pembaca? Ada triknya. Jika Anda kesal ketika membaca sebuah berita yang tidak terlalu panjang, tapi dibikin beberapa halaman, maka itu sudah strateginya. Ini juga akan menambah jumlah trafik pengunjung. Apa efek trafik pengunjung? Media online bisa mematok tinggi harga advertorial. Semakin tinggi atau banyak jumlah pengunjung, menjadikan posisi tawar tinggi. 


KUALITAS BERITA

Ini kembali kepada visi misi perusahaan. Bagi media online berbayar, tentu bisa mendapatkan berita dengan kualitas tinggi. Satu isu penting, akan dibahas habis-habisan. 

Maka, jangan berharap dapat menikmati berita investigasi, indepth news, hingga running news berbobot ketika membaca media online yang tujuannya: "Yang penting ada berita". 

Seleksi alam media online sebenarnya dimulai dari sini. Di tangan pembaca. Ya, di tangan Anda. Semakin sedikit pembaca, maka akan memegaruhi posisi tawar iklan. Sebab, ke depan, persyaratan penempatan iklan pun akan banyak diterapkan. 

Saat ini saja sudah mulai banyak. Wajib memiliki reporter ber-UKW Utama, wajib PKP (Pengusaha Kena Pajak), wajib punya akun ekatalog, hingga wajib tergabung dalam organisasi jurnalistik. Jadi, tantangan pengusaha media semakin hari tidak ringan. Maka, siap-siap saja bagi penganut: Yang penting ada berita.(*)


Pilihan Redaksi: woy hantu dicarii tuh

Share:

Berita Lainnya