Sumber foto: fk.uc.id

Kusta Di Tengah Pandemi

POJOKALTIM - Hampir setahun lebih, jagad digegerkan dengan munculnya penyakit yang disebabkan virus corona, atau biasa dikenal Covid-19. Semua mata dan telinga pada akhirnya tertuju pada penyakit yang diduga muncul pertama kali di Wuhan, China, 2019 silam tersebut. Namun, sebenarnya masih banyak penyakit yang bahkan hingga kini belum teratasi. Baik di luar negeri, maupun di republik ini.


Adalah kusta, penyakit yang malah diberi predikat: penyakit sepanjang peradaban manusia ini, faktanya masih ada dan terus mengintai siapa saja. 


Di Indonesia, berdasar data World Health Oraginzation (WHO) seperti disampaikan news.unair.ac.id, Indonesia, setelah India dan Brazil termasuk negara yang memiliki pekerjaan berat mengatasinya.


"Eliminasi kusta di Indonesia telah tercapai pada tahun 2000. Sementara Provinsi Jawa Timur mencapai eliminasi tahun 2016. Kemudian, tahun 2018 di Indonesia jumlah kasus baru kusta 14.397 dengan case detection rate 5.43 per 100.000 penduduk dengan jumlah  total kasus kusta 19.033 dengan angka prevalensi 0.72 per 10.000 penduduk, namun tetap masih ada kantung-kantung endemis terutama di Indonesia bagian Timur," papar advisor Global Partnership for Zero Leprosy yang juga anggota tim Guideline of Leprosy WHO itu, seperti yang tercantum dalam news.unair.ac.id


Sama halnya dengan penderita Covid-19, penderita kusta hingga saat ini masih mengalami "diskriminasi". Meski begitu, penderita Covid-19 kini sudah tak lagi dianggap begitu. Orang-orang, perlahan mulai "berdamai" dengan penderita Covid-19.



Mengapa penderita kusta didiskriminasi? 

Tidak percaya diri, malu, takut dijauhi, hingga memandang rendah diri sendiri sering dirasakan para penderita kusta. 


Mereka enggan ke luar rumah untuk berobat karena malu bercak putih maupun kemerahan pada kulit dilihat oleh orang lain atau takut menularkan kusta kepada orang lain. Akhirnya, penderita kusta lebih banyak yang menyembunyikan diri di dalam rumah. 


Kurang lebih begitu potret penderita kusta di tengah masyarakat Indonesia. Keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi faktor munculnya rasa tidak percaya diri seorang penderita kusta. 


Dikutip dari https://health.kompas.com/read/2015/01/27/140858523/Stop.Stigma.dan.Diskriminasi.pada.Penderita.Kusta?page=all, sejumlah penderita kusta kerap dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat. 

Diskriminasi sosial juga sering dialami, baik oleh penderita kusta maupun orang yang pernah mengalami kusta. 


Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2007-2008, diskriminasi terhadap orang yang mengalami kusta di antaranya, tidak diterima sebagai pegawai, dikeluarkan dari pekerjaan, tidak boleh sekolah, diejek atau diolok-olok, bahkan ada yang ditolak naik kendaraan umum, ke tempat ibadah, restoran, hingga ikut pemilu.


Jadi, jauh sebelum ada pandemi Covid-19, penderita kusta sudah me"lockdown"dirinya sendiri. Menjauh, bila tak ingin disebut dijauhkan dari lingkungan. Bahkan lingkungan keluarga terdekat. 


Adanya stigma ini malah menjadi faktor penghambat untuk mencari penderita oleh tim kesehatan untuk kemudian disembuhkan.


Di masa pandemi ini, pemerintah semestinya juga memberikan penanganan sama terhadap penderita kusta. Meski "belum" menjadi pandemi, penanganan kusta mesti segera dilakukan dan dituntaskan.


Kalau perlu, layak juga dibentuk satgas kusta. Tugasnya, mencari, mendata, dan memberikan penanganan medis. Untuk obat-obatan, juga sudah semestinya mendapat bantuan atau subsidi dari pemerintah. 


Berkaca dari penanganan pandemi Covid-19, pengendalian dan penanganan kusta sudah seharus dan semestinya sesegera dilakukan. Penderita kusta pun berdampak atas kehidupan perekonomiannya. Mereka tak bisa beraktivitas. Pun mereka berdagang, entah apakah ada yang bersedia membelinya.



Benarkah kusta berbahaya?

Sejatinya, semua penyakit berbahaya. Terlebih jika dibiarkan begitu saja. Berdasar informasi klikdokter.com, Penyakit kusta memang sudah dikenal sejak lama. Meski pengobatannya telah ditemukan, tapi tetap saja penyakit kulit ini belum juga musnah! Bahaya kusta yang tidak diobati dengan benar bahkan bisa berakibat pada komplikasi serius.


Kusta disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Itu sebabnya, kusta dikenal juga dengan istilah lepra. Kuman lepra yang masuk ke dalam tubuh seseorang biasanya tak langsung menimbulkan gejala.


Kuman tersebut akan berdiam diri dan mulai berkembang biak perlahan-lahan. Gejala baru mulai muncul setidaknya lima tahun setelah kuman penyebabnya menginfeksi tubuh. Ciri khas dari penyakit kusta adalah bercak putih tersebut mati rasa dan tidak dapat berkeringat. Kadang kala bercak yang ada tidak berwarna putih, melainkan berwarna kemerahan atau menjadi lebih gelap.

Selain itu, kerusakan saraf yang terjadi akibat infeksi bakteri M. leprae ini juga dapat menyebabkan mati rasa di lengan atau tungkai, serta otot yang melemah.

Kusta umumnya tidak mengancam nyawa dan menyebabkan kematian. Namun, kualitas hidup penderitanya bisa sangat terganggu akibat berbagai komplikasi yang bisa terjadi.



Bagaimana Pengobatan Kusta?

Pengobatan dan obat kusta sudah ditemukan. Pada penderitanya, biasanya diberikan kombinasi antibiotik sebagai langkah awal pengobatan pada 6 bulan hingga dua tahun.


Adapun antibiotik yang umumnya diberikan antara lain rifampicin, dapsone, lampren, clofazimine, ofloxacin, serta minocycline. Selain itu, diberikan pula obat pendamping guna mendukung penyembuhan. Berupa suplemen vitamin B1, B6, B12.




Amankah Serumah dengan Penderita Kusta?

Kusta memang menular. Namun proses penularannya sangat lama. Dikutip dari laman fk.ui.ac.id, masa inkubasi penularan bakteri ini selama 3 hingga 5 tahun. 


Proses penyembuhan bagi penderita kusta sangat dipengaruhi dengan orang terdekat. Stigma pengucilan, mesti ditepikan. Mereka tetap membutuhkan pertolongan untuk pengobatan. 


Dukungan agar cepat sembuh dari orang-orang terdekat sangat mereka butuhkan. Jika terus-terusan kita pelihara stigma bahwa ini adalah penyakit kutukan, maka, percayalah kusta akan kian berat ditangani. 


Apakah layak penderita kusta berdiam diri menunggu mati?

Share: