Sineas Muda Bangun Ruang Diskusi Dan Belajar

Pemutaran Film Dokumenter “Pesta Babi” Di Bontang

BONTANG - Komunitas Sineas Besai Berinta (SBB) menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi karya Watchdoc di Kota Bontang. 

Film dokumenter berdurasi 1 jam 35 menit ini bercerita tentang perlawanan Masyarakat Adat di Papua yang tengah mempertahankan tanah adat mereka ditengah gempuran proyek korporasi maupun proyek pemerintah bertajuk Proyek Strategis Nasional. Proyek pembukaan lahan seluas 2,5 juta hektare di Kabupaten Marauke, Kabupaten Boven Digoel, dan Kabupaten Mappi ini memaksa Masyarakat Adat untuk melawan, dengan cara mendirikan kayu balok raksasa yang dirangkai menjadi salib lalu di cat berwarna merah. Salib merah tersebut kemudian di dirikan di tanah-tanah adat sebagai simbol lahan milik adat yang tidak boleh di klaim pihak lain terutama pihak korporasi maupun pemerintah. Sementara di pemukiman, para tetua adat melaksanakan ritual adat yakni memasak babi dengan mengumpulkan tetua adat dari berbagai suku di Papua, ritual yang membutuhkan persiapan waktu lebih kurang 10 tahun ini jadi wadah untuk saling menguatkan dalam menghadapi 'kolonialisme' baru di tanah Papua.

Kegiatan nonton bareng film yang disutradarai Dandhy D Laksono bersama Cypry Dale ini dihadiri oleh pelajar SMA/SMK, pembuat film, jurnalis, serta pegiat kreatif yang memiliki ketertarikan pada dunia perfilman dan isu-isu sosial lingkungan.

Acara ini turut menghadirkan Mulyadi sebagai pemantik diskusi dari sudut pandang filmmaker, serta Fitri yang memberikan perspektif sebagai jurnalis yang peduli terhadap isu lingkungan. Diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film menjadi ruang refleksi bersama, membedah pesan film sekaligus mengaitkannya dengan realitas sosial yang terjadi.

Perwakilan Sineas Besai Berinta menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan perdana tersebut. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan dan membangun ekosistem kreatif bagi para pegiat film di Bontang.

"Kegiatan ini bukan hanya tentang menonton film, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama. Kita ingin mengasah pemahaman tentang film sekaligus berdiskusi kritis terhadap karya yang ditonton, termasuk dalam merespons isu-isu yang berkembang di masyarakat," ujarnya, Sabtu (2/5/2026)

Lebih lanjut, SBB berkomitmen untuk secara konsisten menggelar kegiatan nonton bareng dan diskusi film sebagai langkah awal sebelum masuk ke tahap produksi karya. Menurutnya, membangun kecintaan terhadap film menjadi fondasi penting bagi lahirnya sineas-sineas lokal.

"Kami percaya, sebelum membuat film, kita harus suka dan memahami film terlebih dahulu. Ke depan, kami berharap bisa melahirkan karya film asli Bontang, yang diproduksi oleh putra-putri daerah," tambahnya.

Sineas Besai Berinta juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin bergabung tanpa melalui proses seleksi. Komunitas ini diharapkan menjadi wadah inklusif untuk belajar, berdiskusi, serta berkolaborasi dalam dunia perfilman.

Sebagai komunitas, SBB tidak hanya fokus pada aspek teknis perfilman, tetapi juga mendorong anggotanya untuk peka dan responsif terhadap berbagai isu sosial, budaya, dan lingkungan yang ada di sekitar. Melalui film, mereka ingin menghadirkan perspektif lokal yang kuat sekaligus menjadi medium penyampaian pesan yang berdampak.

Dengan semangat kolaborasi dan keterbukaan, Sineas Besai Berinta optimistis dapat berkontribusi dalam perkembangan industri kreatif di Kota Bontang, sekaligus melahirkan karya-karya yang berakar dari realitas daerah. (vhaud)

Share: