Penulis: Tim Redaksi

Andai Saja Luka Ku Seperti Luka Mu...

Mudah saja bagimu...
Mudah saja untukmu...
Andai saja, luka ku seperti lukamu..

Sebait lirik lagu karya Sheila on 7, setidaknya mewakili gambaran betapa kadang manusia merasa berempati, merasa paling kuat, merasa paling hebat dalam menghadapi masalah. Sehingga dengan tak sadar mencoba memberi nasihat kepada orang lain untuk tegar menghadapi masalah orang lain.

Mungkin maksudnya baik. Tapi ya itu tadi. Level luka akibat entah itu permasalahan hidup, ujian hidup, bahkan kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai yang kemudian diambil oleh pemilik sejatinya, dengan mudah kita berucap "yang sabar...yang tegar...,,"

Ya sekali lagi, tidak salah. Namun, sesekali, dengan kita mendatanginya, menggemgam tangannya sembari tak berucap sepatah katapun, itu sudah sangat tepat.


Yang mendapat musibah pun, sudah paham bahwa kita berempati kepadanya.

Sebab, mungkin kita belum pernah merasakan di posisi orang tersebut. Betapa saat ini orang yang dititipi musibah tersebut, tidak memerlukan ucapan belasungkawa...


Ia pun tahu, bahwa semua ini ujian baginya. Semua sudah ketetapan yang maha kuasa. Namun, dalam titik tertentu, sebagai manusia biasa, rasa kehilangan itu bisa dikatakan lumrah. Bukan berarti ia tak menerima takdir.
Tetesan air mata yang tumpah, bukan menangisi kepergian atau kehilangan.

Ini semata karena ia tak bisa lagi bermain, melihat, bercanda bersama orang yang selama ini ia cintai.
Soal rezeki, maut, jodoh, sudah digariskan. Tak ada yang bisa mengubah, dan tak akan berubah. Ketidaktahuan dan keterbatasan pengetahuan kita sebagai manusia saja lah yang menganggap semua itu bisa diubah.

Lantas bagaimana kita bersikap jika ada kawan, sanak saudara yang tengah berduka? Menengadahkan tangan adalah yang paling terbaik.

Ada kalanya, diam itu lebih bermakna ketimbang ribuan kata. 

Share:

Berita Lainnya