Andai...a...a...a...aku Jadi Walikota

Pagi tadi, di sebuah warung kopi yang tak begitu terkenal, aku baru saja berdiskusi dengan kawan lama. Bisa dibilang kawan sepermainan sejak bocah. Rumahnya berjarak selemparan sendal jepit dari rumahku. 



Disebabkan oleh waktu, aktivitas, serta seabrek kegiatan lainnya, kami akhirnya terpisahkan. Meski sekarang dipersatukan kembali oleh media sosial.



Kawanku ini, kuliahnya hampir lulus. Bukan karena ia tak pandai. Hanya karena ia berpendapat bahwa kuliah di univesitas hanyalah sekadar membanggakan orangtua saja dengan selembar kertas yang disebut ijazah.



Baginya selembar kertas itu bukan menandakan bahwa itu bukti seseorang pandai dalam bidang akademik. Tidak. Itu hanyalah bukti bahwa seseorang pernah kuliah. Titik. 



Sudahlah, bukan itu yang mau aku sampaikan. Tapi mengenai topik kami pagi tadi. Tak jauh-jauh dari pesta demokrasi yang tak lama lagi bakal digelar serentak se antero Nusantara.



"Mudahan saja di Samarinda ada perubahan," ujarku membuka diskusi. "Lebih rapi, lebih nyaman, dan aman, serta pembangunan merata," sambungku sambil menyeruput kopi susu panas sachetan.



"Jangan berharap," jawabnya santai sembari mulutnya tak henti mengunyah sanggar yang baru saja diangkat dari penggorengan. Sesekali sanggar tersebut ia celupkan ke kopi susunya sebelum ia kunyah.



"Mudahan saja lah. Toh, yang bertarung ini juga orang orang baru. Orang-orang yang kelihatannya cakap dan mumpuni mengelola kota ini," kataku.



"Memangnya, yang sebelumnya tak memenuhi standarmu itu?," tanya dia datar. "Sudah berapa tahun. Atau berapa belas tahun. Atau berapa puluh tahun kita dipimpin orang yang sama. Apakah banyak perubahan?,"


Menurut dia, meski ada perubahan, tak signifikan. Dan jika ada proyek monumental, itu diselesaikan dalam hitungan tahun. Multiyears. Bahkan ada proyek yang selesai begitu diambilalih oleh pemerintah provinsi.



"Kan yang ada beserta timnya tetap bekerja. Kita mana tahu ada kendala teknis apa yang menerjang," sanggahku.



"Di situlah kecakapan seorang pemimpin itu diuji. Seberapa jauh pengalaman birokrasinya. Seberapa hebat ia mampu memanajerial oligarki di sekitarnya. Dari sini, kita akan tahu. Apakah ia bekerja benar-benar untuk kita-kita ini sebagai rakyatnya," ocehnya. Kali ini, ia sampaikan dengan nada sedikit serius. Matanya tajam menatapku. 



"Oke, oke. Tak gampang memang. Apalagi jika kita berbicara soal oligarki. Okelah, kita kesampingkan dulu soal oligarki. Hal mendasar apa yang semestinya dilakukan mereka mereka yang mencalonkan diri itu," sambatku tak kalah serius. 



"Sudah berapa pemilu kita lewati. Warga sudah pandai. Warga sudah jenuh dan lelah. Apalagi di zaman digital seperti sekarang. Kejadian di seberang laut sana, bisa diketahui dalam hitungan detik. Kau pakai celana atau tidak, semua bisa tahu,"



"Sudahlah. Sebaiknya mereka mereka yang maju ini, tak usah banyak berjanji. Kemauan warga Samarinda ini tak muluk muluk,"



"Warga kita ini sudah kebal. Warga kita ini tak pandai mengeluh. Sudah berapa kali banjir tak tertangani. Sudah sesering apa air tak mengalir sementara karunia Tuhan atas Samarinda dengan luas dan panjangnya Sungai Mahakam, ditambah curah hujan tinggi yang mengisi waduk waduk, namun masih saja kita mendapati warga yang tak teraliri air?,"



"Simpel saja kawan. Tak banyak yang dituntut warga. Selama warga masih bisa bekerja dengan baik. Selama masih bisa berusaha dengan lancar yang tak dipersulit dengan birokrasi kompleks. Selama kita pulang kerja di atas pukul 10 malam tanpa diintai begal. Selama duduk dipinggir tepian Mahakam bermodal sebungkus rokok masih nyaman tak diganggu pemalak pemalak lokal. Selama jalan berlubang lekas ditambal. Itu saja. Tak perlu lah mengumbar janji apalagi janji tersebut memang hak yang semestinya diterima rakyat,"



"Ah, itu bukan simpel. Tapi banyak," protesku.



"Jika kau bilang itu tak mudah, maka tak layak kau jadi walikota. Ah sudahlah. Aku mau jalan lagi ini. Titip kopi dan sanggar 5 biji tadi," ujarnya lantas pergi.



"Sial,"



(aka)

Share:

Berita Lainnya