Penulis: Tim Redaksi

Bjorka, Sebuah Nama Sejuta Cerita

Jagad maya gunjang ganjing lagi. Hacker dengan nikcname Bjorka, melambung di twitter. Peretas tersebut, konon infonya, berhasil melenggang leluasa di surat elektronik orang nomor satu di negeri ini: Presiden. 

Sejumlah subyek surat yang ditujukan ke pak presiden, bocor di publik. Gamblang. Terpapar jelas. Berseliweran di media sosial berlogo burung biru. 

Di tengah rawannya data warga Indonesia, bahkan konon lagi data tersebut diperjualbelikan, menjadi momok. 

Bagaimana tidak. Data pribadi warga, sangat mudah diketahui. Tentu ini masuk kategori bendera merah. 

Sebab, dengan data warga itu, siapapun bebas dan bisa menggunakannya sesuai kepentingan. Jika untuk kebaikan, tak menjadi soal. 

Kominfo, adalah titik di mana semua telunjuk warga mengarah. Lembaga tersebut, oleh khalayak dipercayakan dan semestinya sebagai benteng terakhir penjaga kerahasiaan data pribadi. 

Namun apa daya. Kominfo malah meminta semua rakyat untuk menjaga datanya masing-masing. Maksudnya bagaimana ini? 

Kita yang tak paham, atau lembaga itu yang tak tahu job description tugasnya. Bukankah semua data terpusat di sana? Kalau salah, mohon koreksi. 

Kekesalan rakyat yang khawatir datanya disalahgunakan, tak ada salahnya berlindung di balik baju Kominfo. Tapi, kok Kominfo malah menyuruh rakyatnya yang menjaga sendiri. 

Banyak berita mengenai itu. Pernyataan tentang Kemenkominfo itu bisa dicari di banyak referensi pemberitaan nasional. 

Tetiba, muncullah Bjorka. Dari antah barantah. Tampil bak seorang hero. Yang langsung menampar dan mencorengkan arang di wajah pak menteri. 

Selain email pak presiden, data pak menteri juga terkuak. NIK, alamat, nomor ponsel terpamer jelas di media sosial. 

Ini sebuah pukulan yang sangat amat telak. Anak milenial menyebutnya dengan istilah: savage.... 

Bagaimana bisa, data rahasia tingkat tinggi sebuah negara bisa diobrak abrik oleh peretas. Sebegitu mudahkah pertahanan digital negara kita? 

Ini tentu sangat berbahaya bagi kedaulatan negara kita. Sebab, tak menutup peluang bagi Bjorka lainnya untuk melihat tanpa perlu mengintip lagi rahasia-rahasia negara kita. 

Dalam cuitannya yang terbaru, Bjork mengatakan bakal menampilkan lagi data MyPertamina. 

Ini merupakan bentuk dukungan si Bjorka dalam "memperjuangkan" suara-suara menolak kenaikan BBM. 

Alhasil, warga jagad maya lantas menitipkan beragam pesan kepadanya untuk membongkar semua kasus di negeri ini. Anda tahu lah, kasus mana saja yang masih terselubung tabir gelap. 

Ya... Entah mau senang atau tidak, tergantung sudut pandang masing-masing. 

Di tengah ketidakpastian, kalau boleh dikatakan begitu, berbagai pengungkapan kejadian-kejadian ganjil belakangan ini yang masih menimbulkan sejuta tanya, sebagian besar netizen menitipkan beban itu di pundak Bjorka. 

Kita boleh saja tidak puas dengan kebijakan pemerintah. Ada aturan yang mengatur soal bagaimana menyampaikan ketidakpuasan. Karena memang, pemerintah bukan objek pemuas. 

Tapi di sisi lain, kekecewaan sebagian rakyat atas segala yang melanda negeri ini lah, atau alam demokrasi yang mungkin bagi pendapat rakyat yang tak lagi demokrasi ini, bisa mengubah siapapun menjadi bidan untuk melahirkan seorang Bjorka. 

Bjorka, oh Bjorka...

Share: