Cuma 2,5 Persen Doang

Penulis: Tim Redaksi

Lupakan sejenak kegaduhan yang menyebut nilai zakat fitrah yang hanya 2,5%. 

Sangat disayangkan memang. Padahal kita baru saja disatukan dengan war takjil.

Tapi sudahlah. Tidak mengapa. Silakan saja, siapapun bisa menilai. Yang penting, toleransi di atas segalanya. Lakum dinukum waliyadin. Bagimu itu kepercayaanmu, bagiku itu yang kupercaya.

Kembali ke soal zakat fitrah.

Dari data Baznas nasional, sebesar Rp 420 miliar terhimpun pada idulfitri kali ini. Tentu, angka ini bisa lebih besar lagi. Mengingat, Muslim membayar fitrah tak hanya ke Baznas. Ada yang melalui masjid, badan di luar Baznas, dan yang langsung menyerahkan ke penerima.

Kita berandai saja, total fitrah di Indonesia terkumpul Rp 600 miliar. 

Tentu, dengan uang segitu, bisa bermanfaat banyak bagi Muslim yang tak mampu. Berapa banyak Muslim yang bisa memperpanjang napas dari penyaluran fitrah itu.

Setidaknya, dalam satu bulan, satu keluarga miskin bisa tercukupi sembakonya. Bisa mencicil utang ke warung tetangga atau kepada siapapun yang ia pinjam uangnya.

Yang pasti, urusan perut bisa diamankan selama 30 hari. 

Betapa luar biasa efek sosial dari fitrah. 

Ini baru fitrah, belum lagi ada yang namanya zakat penghasilan perbulan, dan zakat harta.

Jika konsisten digugurkan kewajiban tersebut, bukan tak mungkin, angka kemiskinan bisa berkurang. 

Mungkin tak ada lagi terdengar suara token listrik dari tetangga kita. 

Betapa memang, Islam mengajarkan untuk saling berbagi. Dengan harapan, dari uang zakat, penerima mampu menggunakan dan mengelola sebaik mungkin, kemudian ia pada akhirnya mampu untuk berzakat, maka akan berkurang lagi orang yang tak mampu. Begitu seterusnya.

Ya, efek zakat sebenarnya luar biasa. Tak sekadar membersihkan harta dan jiwa saja. Dibalik itu, kita diajarkan bahwa jangan terlalu menggenggam dunia. Ada hak mereka di antara harta yang kita dapat, dan itu harus dikeluarkan.

Jika sebagai warga saja kita mau membayar pajak yang akan 13 persen, masak iya mengeluarkan 2,5 persen saja kita enggan mengeluarkan?

Share: