Kepo Tipis Tipis Melalui Quick Count

Penulis: Tim Redaksi

Rasa ingin tahu kita, eh sebagian banyak warga Indonesia adalah begitu besar. Menggebu-gebu. Tidak sabar ingin tahu sesuatu yang akan terjadi.

Jangankan esok hari, kita pun sudah penasaran apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Ada kejadian apa, siapa jadi apa, siapa kenapa, kenapa siapa jadi apa, dan seterusnya. Apalagi kalau bicara soal siapa yang jadi presiden. Wuih, lebih menantang lagi rasa ingin tahunya.

Pemilu baru saja terlaksana. Meski memilih calon legislatif juga, namun pamornya redup dengan isu pemilihan presiden. Gegap gempita. Meledak-ledak.

Baru H+1, kita sudah resah bin gelisah ingin tahu bagaimana hasil pilpresnya.

Maka, tiap kanal berita pun seolah balapan liar menyajikan liputan hasil hitung cepat mandiri. Belum lagi yang dari kalangan lain. Sementara, proses penghitungan masih berjalan. Semalam kami melintas di depan beberapa TPS, panitia masih melakukan rekapitulasi. Menengok fitur jam di ponsel, pukul 10.34 malam.

Ya, karena kadar keppo kita yang begitu besar, tak heran data hitung cepat sementara, begitu dinantikan. Sangat dicari-cari, lalu dibanding-bandingkan satu dengan lain. Jika hasil tak sesuai dengan apa yang didukung, dilampiaskan dengan membuat status di media sosialnya. Ribut, berbalas-balasan komentar karena beda pendapat dan pilihan. Aneh.

Ya, proses penghitungan di KPU masih berjalan. Belum final. Bahkan 50% saja belum tercapai. Tapi para pendukung sudah ribut. Sudah mulai saling mengejek, satir, dan sejenisnya.

Biarkan KPU dan ornamen lainnya bekerja. Kita tunggu saja hasilnya. Jika sekadar ingin tahu hasil pemilu melalui data hitung cepat, ya tak persoal. Yang penting jangan dijadikan patokan dan pegangan, kemudian dipertahankan mati-matian jika hasilnya tak sesuai keinginan. Anggap saja, hasil hitung cepat itu seolah seperti membaca ramalan zodiak. Untuk lucu-lucuan saja.

Proses penghitungan masih berjalan. Tahapan masih panjang. Jika ada protes, ada tersedia jalur Mahkamah Konstitusi. Jika berimbang, masih ada putaran selanjutnya.

Yang penting bagi kita adalah mengingatkan kepada siapa saja yang terpilih untuk bertugas sebaik-baiknya.

Apa-apa yang sudah dijanjikan ketika kampanye, tolong wujudkan. Karena apa yang dijanjikan, itu jatuhnya utang. Kalau tak dilunasi, ya bakal jadi utang selamanya.

Mendatangi, membaur, menyapa, berdiskusi dengan warga harus tetap dilakukan di sela-sela kesibukkan nantinya. Senyum sapa ketika di jalan, mesti tetap dilakukan. Jangan sampai, kami-kami ini nantinya diklakson-klakson disuruh menepi ketika bapak-ibu melintasi jalan raya.

Share: