Lintang Kartika


Malam itu cerah, tanpa awan. Setitik merah tanpa kedip mengintip. Turun sedikit aku melihat Orion. Dengan sabuknya yang menunjuk ke arah Aldebaran mata si lembu jantan sang penyeruduk langit. Masih dalam gugusan rasi lembu jantan, agak ke kiri atas dari Aldebaran, terdapat sekelompok bintang berkelip indah.


"Itu, lintang kartika namanya," katanya. Tangan kanannya merengkuh bahuku lembut. Sementara telunjuk kirinya menunjuk ke arah langit. Pandang mata kami tertuju pada kumpulan bintang yang serupa permata biru.

"Seperti namaku," ujarku sambil menatapi langit.

"Iya, karena kamu memang secantik bintang-bintang itu," jawabnya.


28 tahun setelah kejadian malam itu.


Laki-laki gagah itu kembali merengkuh bahuku. Meski tangannya sudah tak lagi kokoh dan bahunya juga tak lagi setegap 28 tahun lalu. Tapi ia tetap laki-laki paling lembut yang pernah kutemui. Ayah Atlas. Demikian aku sering menyebutnya. Karena beban yang ia pikul kurasa serupa Bumi yang dipikul Atlas di pundaknya. Tapi meskipun beban yang ia pikul demikian berat, bibirnya selalu tersenyum. Ia lebih memilih menceritakan dongeng-dongeng tentang gugusan bintang daripada berkata iya ketika aku meminta memindahkan beban itu ke pundakku.


Laki-laki itu tak pernah sekalipun membuat aku meneteskan air mata. Kecuali air mata bahagia.


Malam ini dengan posisi yang sama ia menunjuk kerlip lintang kartika di langit timur rumah kami. Semesta seakan hanya untuk kami berdua.


"Mulai besok,  jika Ayah merindukanmu Ayah cukup memandang langit. Karena ada kamu di sana," ucapnya lembut.


"Ayah bisa videocall. Gak usah malah mandangin bintang. Nanti masuk angin," ujarku sambil susah payah menyembunyikan mataku yang mulai berembun. Teringat bahwa besok aku akan meninggalkan Ayah Atlasku, dan memulai langkah bersama laki-laki lain yang tadi pagi menjabat erat tangan Ayah. Laki-laki tegap itu mengucap janji menjadi imam terbaikku dengan disaksikan seluruh penghuni langit.


"Di tempat baru, kamu tidak perlu memikirkan Ayah. Dimana pun kamu, harus tetap berkilau seperti mereka," ujarnya sambil menunjuk langit.


Berdua kami dalam senyap memandang kelip lintang kartika yang kadang berjumlah tujuh, kadang berjumlah sembilan. Pernah ketika aku tak bisa tidur, Ayah mendongengkan cerita Jaka Tarub dan Nawang Wulan. Diceritakannya jika tujuh bidadari dalam cerita itu adalah tujuh bintang dalam gugus lintang kartika. Kisah dongeng yang kuprotes karena harusnya tidak terjadi jika Jaka Tarub pernah belajar untuk ghadul bashar dan tidak mencuri. Ayah pun hanya tertawa mendengar komentarku.


"Ayah, kenapa namaku Lintang Kartika?" tanyaku memecah hening.


Ayah menarik nafas panjang. Matanya tak lepas dari memandang langit.


"Lintang Kartika dalam keindahan kerlipnya yang serupa berlian, dulu biasa digunakan sebagai panduan dalam berlayar. Juga sebagai penanda waktu bertanam. Namamu Lintang Kartika karena Ayah ingin kamu menjadi bintangnya bintang. Tidak hanya cantik, tapi juga berguna untuk banyak orang,"


Ayah merengkuh bahuku erat seperti tak pernah akan melepaskan dan aku seperti melihat bintang terang di matanya. (***)


Penulis


Siska Rostika

Share:

Berita Lainnya