Mimin, Namanya....

"Panggilnya Mimin aja" ucapnya sambil tersenyum seolah kami sudah kenal lama.


Ini pertemuan kedua kali setelah akhirnya gadis yang minta dipanggil Mimin itu menjawab 'silakan' saat aku meminta izin untuk bisa berjumpa dengannya lagi.


Sebelumnya kami hanya bertukar obrolan melalui sinyal digital yang ditangkap-pancarkan tower-tower BTS.

Entah bagaimana awalnya cara kami berkenalan. Tapi seingatku rasanya karena kami sempat berdebat soal nama tanaman dalam sebuah pertemuan tentang potensi pengembangan tanaman hias yang kami menjadi pesertanya. 


Sebab yang receh bukan? Tapi kalau saja kalian melihat bombardir ceriwisnya menyerangku... Rasanya aku sangat menyesal menyebut Monstera obliqua dengan sebutan Janda Bolong. 


Dengan sadis ia menyebut aku tidak menghargai status janda. Maksudku kan bukan begitu. Lagipula kenyataannya itu memang nama yang lagi populer di seantero tukang kembang. Dan harga satu anakannya lumayan mahal. Syukurnya saat aku minta nomer kontaknya, gadis itu tak sesadis yang kukira.


Urusan nama memang bukan sesuatu yang sederhana. Meskipun kali ini keningku berkerut...nama gadis itu aslinya indah. ... Shafiya Indira Yasmin. Tapi dia malah minta panggil Mimin.

"Woy..napa bengong? Gak pernah lihat orang cantik?" Gadis itu...si Mince eh Mimin melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.


"Iya..eh enggak... eh... maksudku... bukan" jawabku gugup.


"Santai aja, Mas. Aku ga makan orang"


Itulah sebagian percakapan awal kami ketika pertama berjumpa, sekitar 30 menitan. Tidak bisa lama-lama. Karena si Mimin harus segera pulang.


"Anakku nunggu ini..." katanya sambil menunjukkan bungkusan di tangannya. Sebungkus besar makanan kucing. Duh.


"Baiklah... aku antar pulang ya?"


"Nggak usah, mas... Bapakku galak"


Kemudian pertemanan kami terus berlanjut. Ada saja yang jadi bahan obrolan kami di chat. Kalau bukan tentang tanaman, biasanya sih tentang situasi negara.


Yaaa..namanya rakyat jelata...mengghibah pemerintahnya adalah cara penghiburan tersendiri atas rasa kecewa. Dan jawaban itu menurut Mimin saat kutanya kenapa dia suka sekali mengkritisi kebijakan pemerintah.


Dan sebenarnya dari pihakku sih karena suka aja berbalas chat dengan gadis itu. Apalagi si Mimin anaknya ramah begitu.


Tapi, dia tidak pernah tahu kalau sudah dua mingguan aku sengaja beli sarapan di warung dekat rumahnya yang asal tahu saja jaraknya sekitar 2 km dari tempat aku tinggal. Semua dengan harapan agar bisa ketemu Mimin secara tak sengaja. Dan tentu saja tidak berjumpa. Gadis itu macam gadis pingitan.


Pernah suatu malam. 

[Min.. aku di depan rumahmu sekarang]

[Trus?]

[Boleh bertamu gak?]

[Ngapain? Ini dah malam, aku lagi malas nerima tamu]

[Tapi aku dah di depan rumah]

[Bukan urusanku, Mas]


Chat sama Mimin ya gitu dah... Meski dia tetap aja membalas semua pesan yang kukirimkan, tapi tetap tidak ada tanda-tanda kalau bakal dibukakan pintu dan disilakan masuk. Sampai akhirnya aku menyerah dengan serbuan nyamuk-nyamuk.


Besoknya dia kirimkan stiker ngakak guling-guling saat aku kirimkan foto kakiku yang penuh bentol-bentol karena gigitan nyamuk.


[Aku kira becanda kalo lagi di depan rumah]

[Maaf]

[Aku juga baru sadar kalo benar ada saat kudengar suara motornya Mas]


Aku cuma bisa meringis membaca pesan yang ia kirimkan.


[Gak papa Min... Lihat atap rumahmu juga udah senang hati ini]


Pesan dibaca, tapi gak dibalas.


Min...Min...seandainya aku bisa terbang, sekarang juga aku ke rumahmu. Meminta pada ayahmu untuk mengizinkan aku menjadi imammu.

--------oo--------


"Ngelamunin apa mas? Kok dari tadi senyum-senyum?" Lembut suara menyapa telingaku. Aku menoleh pada sosok manis yang sedang tersenyum menatapku. Di tangannya sepiring kecil kelepon dan secangkir kopi.


Nah, ini yang dari tadi ada dalam lintasan ingatanku. Cintaku Mince eh, Mimin.

Calon ibu dari anakku. Mimin makin cantik dengan perutnya yang terlihat membuncit.


Iya, si Mimin yang tiga ratus enampuluh lima hari lalu pernah bersilat lidah denganku soal penyebutan nama tanaman akhirnya betul-betul jadi pasanganku bersilat lidah sepanjang masa. Insya Allah.


Penulis:

Siska Rostika


Share:

Berita Lainnya