Penulis: Tim Redaksi

Piala Dunia Vs "HAM"

Rasanya, baru kali ini helatan akbar bola sepak antar dunia "ribut" bukan karena siapa yang bakal juara. Bukan pula soal mafia pengatur skor. Apalagi soal pemersatu bangsa-bangsa melalui olahraga.

Selain adu taktik otot dan otak, piala dunia 2022 di Qatar juga adu pemahaman. Sebuah pemahaman tentang pahaman bahwa LGBT merupakan hak bagi pelakunya. 

Bagi dunia di belahan Eropa, para pelaku pelangi tersebut sudah saatnya diberikan haknya. Hak selayaknya manusia yang menyukai lawan jenis.

Tentu, pemikiran ini berlawanan dengan para bangsa di bagian Timur, yang notabene berbasis paham bahwa LGBT itu merupakan sebuah perbuatan yang bahkan oleh agama manapun dilarang. 

Jika ditarik ke beberapa tahun silam, pelaku yang menyukai sesama kelamin ini, merupakan bahan tabu untuk dibahas, apalagi isunya diangkat kepermukaan secara terang benderang. 

Entah, belakangan, secara masif, para kaum pelangi ini, kalau tidak mau disebut kaum Shodom, mulai berani speak up. 

Melalui program televisi, hiburan, dan media lainnya, mereka kendarai untuk memperkenalkan diri. Sekaligus merayu siapapun untuk memahami kondisi mereka bahwa mereka ini "normal". Sehingga mereka layak mendapatkan pengakuan dan hak sama seperti mereka yang normal.

Hingga pada akhirnya, event olahraga yang penggemarnya digemari sejagad manusia di bumi ini, mereka mencoba menitip pesan dan meminta semua bangsa menerima dan memaklumi LGBT.

Event piala dunia memang dinilai pas untuk di endorse. 

Sayang, misi mereka rupanya tak berjalan mulus. 

Meski secara sepak bola Qatar masih di bawah bangsa Eropa, namun secara keyakinan, mereka tak mau kalah. Apalagi bertekut lutut di hadapan simbol simbol pelangi.

Ya, piala dunia kali ini memang sangat unik sekaligus kontroversi. Kita lihat saja endingnya, apakah tim pelangi akan menang?

Share:

Berita Lainnya