Pisau Istri

Sudah dua hari ini istriku yang biasanya berwajah manis dengan tuturnya yang lembut menunjukkan tampangnya yang masam. Dan mungkin jika dia tidak diajarkan bahwa dilarang menolak suami, adegan ranjang bisa saja terancam gagal tayang.

"Sayang kenapa cemberut gitu?" tanyaku setengah merayu. 

"Gak papa." jawabnya sambil membalik badan menghadap ke bungsu kami yang tertidur lelap. 

Kalimat 'gak papa' yang keluar dari mulut istri sudah kucatat baik-baik bahwa itu artinya ada apa-apa. Aku terus berusaha mengingat-ingat lagi kesalahan besar apa yang sudah kuperbuat beberapa hari ini.

Tak puas dengan mengingat dalam otak, perlahan aku bangkit dari pembaringan. Kuraih buku agendaku di meja kerja dan menuliskan daftar kesalahan besar yang mungkin kulakukan.

Berantakin lemari?

Ngilangkan Tupperware?

Naroh handuk basah sembarangan?

Makan cokelat kesukaannya? 

Pulang telat? 

Apa ya? Lima besar dosa tak terampunkan versi istriku sudah ditulis.

Ah, berpikir membuatku lapar. Mau makan, tapi aku sudah menghabiskan sisa makanan di dapur saat makan malam tadi.

Beralih ke kulkas, kulihat mangga yang matang ranum. Kuambil satu. Lalu refleks bergerak mencari pisau yang biasa diletakkan istriku di dalam kotaknya.

Kubuka kotak pisau istriku.

Hei... Kurang satu. Pisau buah tidak ada.

Seperti disengat listrik, ingatanku kembali ke kemarin lusa. 

"Ayaaaahhh... mau ini" Bungsu menunjuk mangga yang diletakkan istriku di dekat dispenser air.

Saat itu istriku sedang mengikuti zoom meeting, tugas dari kantornya. Dan tentu saja sebagai suami siaga aku harus membantu menciptakan suasana kondusif untuk istri bekerja di rumah saat masa pandemi begini.

Begitu juga istriku jika aku sedang jadwal mengajar mahasiswa. Dia akan sigap menjauhkan Bungsu dari areaku bekerja, sebelum konsentrasi mahasiswaku buyar melihat bungsuku yang cantik tiba-tiba muncul dan minta dipangku.

Dan waktu itu, aku mengupas mangga pakai pisau buah itu di teras samping. Lalu....

Plok! Kutepuk jidat sendiri.

Sepertinya pisau itu tidak kukembalikan ke kotaknya.

Bergegas aku menuju teras samping tempatku mengupas mangga.

Apa ini sebab istri cemberut ya?

Haduuuuhhh gawat kalo yang ini. Jika marah ada levelnya macam mie goreng Lik Parmin, berarti level marah istriku sekarang sudah di level cabe rawit segenggam.

Kutelisik lokasi tempat aku dan Bungsu makan mangga. Tidak terlihat apa-apa. Lagipula kalo cuma kubiarkan disini pasti istriku sudah menemukannya.

Keringat dingin mengucur tanpa bisa dicegah. Kondisi ini lebih parah dari pada saat ketahuan bolos sekolah oleh Almarhum Bapak di jaman jahiliyah dulu.

Bagi istriku, pisau itu menempati kasta tertinggi setelah koleksi Tupperware dan panci marble-nya. Satu set pisau yang cantik itu hadiah dari sahabatnya ketika kami menikah. Konon dipesan khusus di perajin pisau terkenal. Makanya ada ukiran nama istriku pada tiap bilahnya.

'Selamat Menikah.

Setelah ini aku gak perlu jaga kamu lagi. Selanjutnya pakai saja ini jika suamimu macam-macam'

Begitu yang tertulis di kartu ucapannya. Membuat bulu kudukku merinding saat membacanya. Sahabat istriku itu memang terkenal punya selera humor rada gelap. Aku saja tidak pernah terpikir untuk memilih satu set pisau sebagai hadiah pernikahan.

Dan sepertinya kali ini aku menghilangkan benda kesayangan istri.

"Mas, kenapa melamun disini?" Istriku tiba-tiba berdiri di sampingku.

"Masya Allah... Kagetnya aku. Kamu kok gak tidur?"

"Emang niat tidur sebentar saja malam ini. Ada pekerjaan kantor yang harus kuselesaikan"

"Oooh..." lalu sepi menyelimuti.

"Kamu dua hari ini marah, Dek?"

"Apa karena pisaumu kuhilangkan?" tanyaku memberanikan diri setelah kulihat wajahnya tidak keruh lagi.

Istriku menggelengkan kepala.

"Aku bukan kesal karena pisau itu, Mas. Tapi aku kesal dengan sifat Mas yang sembrono dengan barang-barang."

"Seminggu lalu guntingku untuk menyiang ikan Mas patahkan, karena dipakai buat menggunting seng. Padahal Mas sering marah kalau ikan gorengnya masih ada sirip yang tajam"

sambungnya.

"Kapan itu pembuka botol ditaruh sembarangan di lantai. Dan itu ketendang Bungsu" 

Aku menoleh cepat ke arah istriku,  pantas kaki Bungsu kulihat ada luka.

"Maaf" bisikku.

"Belum lagi HP, dompet, kunci motor yang digeletakkan dimana Mas duduk terus ditinggal begitu saja. Jam tangan sudah dua kali ketinggalan di masjid. Alhamdulillah masih rezeki. Jadi masih dikembalikan." sambung istriku lagi. Belum selesai rupanya dia berbicara.

Aku terdiam. Inilah jika menikah dengan ahli sejarah. Semua masih diingatnya. Seolah kejadian itu baru tadi sore. Dan kenyataannya, semua yang diucapkan istriku memang benar.

"Coba bayangkan kalau pisau buah yang tajam itu dimainkan sama Bungsu? Karena ayahnya naruh pisau sembarangan. Syukurnya yang nemuin Kakak." sambungnya lagi. Wajahnya kelihatan gemas memandangku.

"Maafin Mas, Dek." Ucapku sungguh-sungguh. Lalu sambung bertanya, "Jadi pisaunya tidak hilang? Trus dimana? Duh Mas sampai lupa kalau tadi mau ngupas mangga"

"Jangan pakai pisau-pisauku. Pakai yang ada di dapur itu saja." sahut istriku tajam.

"Trus kalau disimpan aja kan mubazir jadinya. Nanti bikin susah dihisab." 

"Yang membazir siapa? Selama ini bukannya Mas tuh yang sering boros barang. Karena sering lalai akhirnya hilang. Trus beli lagi. Ternyata ada di tong sampah, di garasi, di halaman. Lagian pisau-pisau itu tetap kupakai kok. Tapi forbidden buat Mas. Kecuali Mas mau aku praktekkan tulisan di kartu ucapan pisau itu?" 

"Astaghfirullah, Dek... Masa cuma karena pisau kamu gitu" aku merinding melihat seringai di wajah manis istriku. Segera kurangkul pundaknya dan kuajak masuk ke rumah sebelum wajah itu masam lagi.

Urusan pisau selesai. Tapi tidak janji untuk barang-barang yang lain. (***)


Penulis


Siska Rostika


Anda Mungkin Menyukai Cerpen Ini Juga:

1. Lintang Kartika

2. Mimin, Namanya

Share:

Berita Lainnya