Penulis: Tim Redaksi

Puasanya, Mau Duluan Atau...???

Entah, ini Ramadan ke berapa yang pelaksanaannya tidak bareng di republik ini. 

Bukan bermaksud menggurui atau mengajari para ulama. Tentu pengetahuan kami tentang ilmu keislaman sangat-sangat jauh. Meminjam istilah Cak Nun, ilmu kami ini ibarat jarak kuku kuda Pangeran Diponegoro dengan langit. Sangat jauh. Ilmu kami tak setinggi para alim ulama.

Tapi, yang hendak kami sampaikan adalah: ayolah, ketika ilmuwan saja bisa menebak secara presisi ke detik berapa gerhana matahari terjadi hingga berapa lamanya, lah kita masih berkutat berselisih pendapat soal hilal.

Selisih pendapat ini terjadi berulang-ulang. Seingat kami, perbedaaan pelaksanaan ini sudah ada sejak kami belajar berpuasa ketika masih berseragam putih merah. Empat puluhan tahun lalu.

Mungkin, perbedaan itu sudah terjadi di puluh atau ratusan tahun lalu.

Kalau itu di ratusan tahun lalu, it's ok. Teknologi belum secanggih sekarang. 

Tapi, ini terjadi di zaman sekarang. Zaman di mana peristiwa di belahan bumi lain terjadi di detik ini, warga di belahan bumi lainnya pun bisa tahu di detik selanjutnya. Sangat canggih.

Sekali lagi, perbedaan pendapat memang sudah lazim terjadi. Khususnya di era usai wafatnya Rasulullah.

Aliran-aliran, mahzab-mahzab bermunculan. Ketika berbeda penafsiran, lalu bikin kelompok sendiri. 

Yang bingung siapa?

Kita-kita ini. Para awam ilmu. Yang terombang-ambing berenang terhempas ke sana kemari dihempas gelombang di lautan samudera perbedaan penafsiran.

Ada yang bilang, perbedaan adalah rahmat. Silakan saja mau setuju atau tidak dengan pernyataan itu. Toh jika Anda atau kamipun tak setuju, sah-sah saja. Bukankah tidak setuju dengan pernyataan itu bukan sesuatu yang salah juga? Sebab, perbedaan adalah rahmat.

Jika memang perbedaan itu murni karena berdasar tafsir, ya tak masalah. Asal jangan, ego yang disajikan. Ego karena tak mau kalah saja dengan pendapat aliran sebelah. Kan kacau kalau begini. Lagi-lagi umat yang dirugikan.

Tapi, syukurnya, bertahun-tahun beda penafsiran soal hilal Ramadan, kita, khususnya umat kalangan bawah, tidak terlalu ribut. Ya, hanya sedikit risau saja. 

Mau ikut puasa duluan, takut dibilang dan dilabeli kelompok sebelah. Padahal belum tentu yang bersangkutan ikut dalam kelompok tersebut. 

Akhirnya, kebanyakan lebih memilih ikut pemerintah saja. Padahal faktanya, pemerintah hanya mengikuti kelompok yang satu itu saja. Bukankah kelompok satunya lagi, secara legalitas juga diakui oleh negara. Semestinya, pemerintah menyilakan saja, umat mau ikut siapa. 

Sekali lagi, ini tidak bermaksud memperkeruh. Hanya bertujuan untuk menggoda akal kita agar bisa digunakan. Sehingga, dengan akal itu, kita bisa mengikuti yang mana.

Pastinya lagi, mari sama-sama kita jaga, jangan sampai perbedaan penafsiran ini malah mengganggu ibadah. 

Dan yang harus diingat adalah bahwa kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkan atas pilihan kita itu. Bukan orang lain, apalagi kelompok atau bahkan negara sekalipun. Memangnya ada yang mau bertanggungjawab atas perbuatan kita?

Share: