Puja Dari Orang Tak Waras

Kurang lebihnya, aku terakhir bertemu kawanku ini, sekira 2 hari jelang Ramadan tadi. 

Bukannya kami tak ingin copy darat. Berbalas balasan WA, telepon-teleponan, sampai segala berbal balasan komentar di media sosial, sudah kami lakukan. Berjanji untuk ketemu, namun gagal. Berulang terus. 

Entah ada ilmu selisih apa... 

Satu waktu, aku tak sengaja mampir ke sebuah tempat, yang kalau dibilang coffee shop, terlalu mewah untuk ukuran bangunan itu. Kedai kopipun masih wah. Kami menyebut warung itu: wadah besinggah. 

Ya, tempat singgah sementara untuk pelarian dari rutinitas yang kadang membosankan. 

Tempatnya tak begitu ramai oleh para remaja yang berpura pura menjadi pencinta kopi. Tempat ini kebanyakan ditongkrongi bapak-bapak yang pesan kopinya satu gelas, ngobrolnya tentang proyek M M an, tapi pulangnya minta ditraktir. 

Aku tak sengaja memang ke tempat itu. Eh, kebetulan dia juga nongkrong di situ juga. 

"Ini sudah, kalau janjian, ga bakal ketemu. Tapi kalau dadakan, bisa aja," ujarku nyerocos. 

Ia seolah tak pedulikan omelanku. Segelas kopi susu yang tak begitu manis kesukaannya, tetap ia seruput. Tampak asbak di depannya sudah lumayan penuh puntung rokok. 

"Jadi apa kesah?" sahutnya santai 

"Ngga ada apa-apa," balasku seraya aku memesan kopi pahit. 

Aku pun duduk di sampingnya. Rambutku yang agak berantakan karena cukup lama tertutup helm, kucoba rapikan dengan jemari. 

"Kayak apa pekerjaan, lancarkah? Usaha, aman ajakah?" selorohnya. 

Aku mengangguk. Aku tak sempat menjawab. Maklum, sebatang rokok sudah menempel di bibir, siap dibakar. 

"Yah, alhamdulillah. Lancar," 

"Syukurlah. Aku sempat khawatir akan usahamu. Sebab, kau baper terus di sosmed sih," kata dia. 

"Biasalah. Namanya juga sosmed. Sesekali alay di status, tak mengapa," jawabku. 

Lantas ku ceritakan semua perjalanan usaha dan pekerjaanku kepadanya. Mulai dari cuan yang tebal sampai hampir dan pernah ketipu calon konsumen, aku beberkan. 

Tumben, kali ini, dia agak serius mendengar kisahkku. Biasanya, jangan harap. 

Namun meski begitu, kawanku ini dari luar saja tampak cuek bebek. Padahal, pada dasarnya, ia seorang yang cukup perhatian. Tapi ia seolah malu menampakkan bahwa ia peduli sesama kawan. Apa karena kami sesama lelaki, makanya begitu sikapnya? Entahlah. Puluhan tahun kami berkawan, ya begitu begitu aja sikapnya. 

Di kala aku susah, ia datang. Di kala aku terpuruk di titik nadir, dimana orang-orang yang dulu memuja dan menghormatiku pergi satu satu menjauh, hanya ia yang menghampiri hanya untuk sekadar bertanya kabar. 

Ia memang tempat nyaman untuk berkisah dan berkeluhkesah. Tak jarang, saran dan solusi keluar dari mulut kotornya. 

"Usahaku lagi sepi," 

"Kenapa lagi sepi,?" 

"Maklum, pemain bisnis ini sudah banyak. Terlalu banyak malah. Cara kasar pun sudah mulai dilakukan kompetitor," uraiku 

"Ya, namanya aja persaingan usaha. Wajar aja itu. Mentalmu aja yang lemah," jawabnya sekenanya. 

"Bah...kamu ini. Bukannya kasih solusi, malah menginjak," balasku sedikit sewot. 

"Sepandai-pandainya strategi marketing tiap orang, pasti ada batas dan kelemahannya. Nah, baca dan pelajari kelemahan pesaingmu. Lalu jadikan itu kekuatan dan nilai lebih bisnismu," tuturnya panjang lebar sambil sesekali ia menghembuskan asap rokok dari mulut dan kedua lubang hidungnya. 

Namun, lanjutnya, jangan sampai kau lupa akan kewajibanmu. Sisihkan 2,5% dari penghasilanmu. 

"Masak, bayar pajak ke negara langsung kau bayar. Sementara hak mereka kau tahan-tahan. Padahal, pajak negara 10%. Ini loh, cuma 2,5%," urainya. 

Kalau itu, sudah aku lakukan. Bahkan, tiap tempat ibadah, anak-anak pinggir jalan, pengamen, pengemis atau siapapun di depanku, selalu ku beri. 

Tak banyak memang. Tapi, ya adalah. Sekadar untuk memberi seteguk susu, cukuplah. 

Lagipula, aku juga rutin menyumbang ke yayasan, maupun menjadi orangtua asuh anak yatim. Apakah masih kurang? Atau... 

"Karena kau masih berharap balasan," ujarnya. 

Jeder...seolah dia tahu apa isi hatiku. Ucapannya seolah menamparku. 

"Memang salah? Bukankah itu yang selama ini kudengar dari para ahli ilmu agama,? tangkisku. 

"Berarti, urusan agama bagimu adalah transaksional. Tak ubahnya seperti mahasiswa yang mengumpulkan SKS. Macam pedagang saja yang tujuannya adalah untung," balasnya. Kali ini, nadanya agak sedikit meninggi. Hampir saja kusepak batang kakinya agar ia menurunkan nada bicaranya. 

Mungkin, apa yang ia katakan, ada benarnya. Aku terlalu berharap atas apa yang telah aku sedekahkan. Aku terlalu sibuk mengkalkulasi berapa rupiah yang bakal aku dapatkan dari sedekahku. Aku terlalu berharap sanjungan, pujian. Sementara aku tahu, bahwa tangan kiri mesti kita injak agar tak tahu apa yang diberi tangan kanan. 

"Itu kau sudah tahu. Apa yang kau harapkan pujian dari manusia?" Sambungnya. Seolah, ia tahu isi pikiranku. "Sial memang," batinku. 

"Mungkin karena harapan dapat balasan berlipat lipat itu, doamu belum dikabulkan. Kalau mau memberi, beri lah kepada orang tak waras. Di situlah kamu belajar ikhlas. Memangnya apa yang kau harapkan dari orang tak waras? Pujian darinya? Kalau iya, berarti kau jauh lebih tak waras. Gila," tegasnya. 

Jleb....kalimat terakhirnya menusuk batinku. Benar benar pukulan telak. Seklias aku mau membantah. Tapi entah mengapa, mulutku terasa terkunci. Aku seolah dipaksa untuk mendengar nasihatnya. 

Tapi, pikirku, memang benar apa yang ia katakan. Selama ini aku terlalu hitung hitungan kebaikan. Padahal, aku tak tahu apakah benar kebaikan yang kulakukan itu memang benar benar kebaikan. 

"Sudah...tak usah kau dengar ucapan terakhirku. Nikmati saja kopi pahitmu. Sebab, hidup tak sekadar menikmati manis manis saja. Kau tak akan tahu manis jika belum merasakan pahit. Aku balik dulu. Jangan lupa, bayarkan pesananku," katanya seraya pergi meninggalkanku. 

Brengsek memang kawanku ini. Tak ubahnya dia seperti bapak bapak yang bicara M M an tadi.


Penulis: DenSul

Share:

Berita Lainnya