Penulis: Tim Redaksi

Sang Kaesar, Eh Kaesang...

Masuknya Kaesang, kita tahu siapa dia, ke PSI langsung menjadi ketua umum, jadi bahan pembicaraan. 

Semua membuat opini, pernyataan, mendukung, menolak, dan seterusnya.

Tulisan ini tidak menggarisbawahi layak atau tidaknya Kaesang yang secara kujuk-kujuk jadi ketua umum. Sebab, kami bukanlah ahli soal itu. Lagipula, itu juga urusan rumah tangga orang lain. Sepanjang tidak melanggar peraturan mereka dan negara, ya terserah saja. Tulisan ini mencoba menilik srategi yang digunakan.

Ok, kita lanjut. 

Partai yang katanya berisi dan mewakili anak muda ini, memang baru lahir. 

Tentu, bagi sesuatu yang baru muncul, perlu promosi agar ia dikenal. Setelah dikenal, tujuan akhirnya tentu ingin terkenal.

Sah-sah saja. 

Dalam dunia marketing, ya memang harus begitu. Harus ada gimmick, wajib ada gebrakan, mesti mucil, agar bisa dapat perhatian dan diperhatikan.

Macam-macam gebrakan maupun strategi marketing PSI memperkenalkan dirinya.

Mulai dari dukung mendukung gubernur, presiden, partai lain, dan sejenisnya.

Cemoohan, kritikan, sinis, dukungan, menjadi satu ditujukan ke mereka.

Apakah PSI tidak paham konsekuensinya? Pasti tahu. Dan memang itu yang mereka tuju. Agar dikenal dan terkenal meski nada negatif tak henti-hentinya mengusik telinga mereka. 

Idiom: kencingi sumur zamzam, sepertinya bisa disematkan.

Tak peduli mau disumpahserapah. Yang penting, bisa dikenal. 

Asalkan saja, strategi ini semoga tidak kebablasan. Sebab bahaya. Bisa jadi bumerang. Bisa jadi seperti meludah ke atas.

Posisi dan eksistensi PSI sudah mulai dihitung dan dilirik partai senior.

PSI sudah PeDe masuk dalam lingkaran partai besar dan ikut, entah diajak atau tidak, untuk mendukung dan meramaikan bursa Pilpres 2024.

Artinya, strategi awal agar dikenal, bisa dibilang berhasil. Ini sudah jadi modal untuk step selanjutnya.

Yang tinggal dirawat dan diperbaiki adalah menciptakan citra yang baik. Memberikan bukti dan mencari simpati pemilih. Dan tak kalah penting adalah meyakinkan pemilih agar memilih mereka melaui gagasan serta usulan apa yang mereka berikan ke rakyat ketika duduk di parlemen nanti.

Menginduksemang ke partai besar memang diperlukan bagi PSI. Ini juga bagian dari proses belajar dan pembelajaran. Siapatau, kelak PSI juga menjadi partai besar. Minimil, bisa dapat suara lah di Pemilu nanti.

Kembali ke Kaesang. 

Ada tugas besar menanti di meja kerjanya. 

Yang paling berat adalah pembuktian bahwa ia tak sekadar cinta PSI, melainkan juga mampu menjadi nakhoda yang tepat. 

Dan yang paling penting dan terberat adalah: Kaesang bisa membuktikan, dirinya merupakan pilihan tepat menjadi ketua umum di tengah-tengah dengungan rintihan suara hati kader-kader PSI: "Wajar, anak presiden".

Share: