Selamat Datang Resesi...

Awan gelap masih menggelayuti iklim ekonomi Tanah Air hingga pengujung tahun ini. Diprediksi para ahli, pertumbuhan ekonomi di kuartal III mencapai minus 2%. Jika hingga pada kuartal ke IV masih minus, republik ini mesti menghamparkan karpet merah terhadap resesi.


Dampak pandemi masih peran utamanya. Semua sektor, kalangan, komunitas, kena badai. Perlahan menuju hancur berantakan. Ngga  karuan.


Baru terhitung sekira 6 bulan, kita sudah merasakan dampaknya yang luar biasa negatif.


Tak bisa berinteraksi satu sama lain, guna memutus mata rantai virus, menjadi awal kisah pilu.


Hukum ekomomi lumpuh. Demand tak sesuai supply. Persediaan melimpah, permintaan menurun. Stok menumpuk. Harapan meneguk manisnya omset berubah menjadi menelan pahitnya tuba.


Perusahaan kecil hingga besar, ambruk. Bangkrut. Kolaps. PHK di mana mana. Padahal ini baru berjalan kurang lebih I semester. Dampaknya sudah mengerikan. Sementara, perbaikan ekonomi belum dapat diprediksi kapan membaik.


Jika pada penutupan kuartal pertumbuhan ekonomi masih minus, resesi jelas menjadi seragam utama kita. Jika tahun depan masih minus, alamat krisis ekonomi kita tuju.


Krisis kali ini beda dengan era 1998. Dulu, brand besar masih berlaba. UMKM jadi pahlawan ekonomi kita.


Krisis sekarang tak pandang bulu. Mikro hingga raksasa kena. Channel, Gucci, Rolex, serta deretan brand berbanderol selangit lainnya, juga tiarap. Di zaman begini, siapa yang di rumah saja mau memakai barang barang mewah??? Siapa???


Meski tak banyak, masih ada hal yang masih bisa kita usahakan guna mengumpulkan rupiah.


Bukan untuk bermewah memang. Tapi untuk sekadar menyambung napas. Sekadar menambal satu jengkal ruang lambung yang kosong dengan segenggam nasi, hingga rasa kenyang bisa bertahan hingga esok hari.


Kita bisa berwirausaha yang sekiranya masih bisa bertahan di masa begini. Bisa berdagang vitamin, herbal, peralatan kesehatan, makanan, minuman, buah buahan, dan seterusnya. Poinnya menyediakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia.


Bisa juga menyediakan jasa kurir. Atau buka ekspedisi. Atau bisa menjadi agen ekspedisi besar.


Ingat, usahakan tidak membuka usaha dengan modal yang besar. Dipending saja dulu. Main di lingkup kecil saja dulu.


Langkah selanjutnya adalah kita membeli dagangan yang dijual oleh mereka yang terdampak pandemi ini. Sebelum ke seberang pulau, alangkah baiknya kita beli milik teman atau keluarga terlebih dulu. Atau disempitkan lagi ruangnya, belilah ke tetangga terdekat.


Langkah kecil ini bisa kita mulai laksanakan. Kita kuatkan dulu ekonomi kanan kiri. Setelahnya baru kita perluas dengan membeli di kompleks sebelah. Perlahan ke kelurahan, kecamatan sebelah dan ke yang lebih luas lagi.


Begitu kaki kita kuat, perut kenyang, maka kita ada tenaga guna melipat kembali karpet merah yang sudah terlanjur kita gelar tadi. (aka)

Share: