Sepotong Kisah Pertemuan


Seperti ratusan pagi yang pernah berlalu, aku berjalan menuju gedung tempatku bekerja. Sengaja aku memilih parkir di tempat yang agak jauh. Karena aku menyukai masa ketika aku berjalan sendiri menyusuri susunan paving yang mengingatkanku pada sarang lebah. Bisa menikmati warna-warni portulaka yang tumbuh di tepi-tepinya, menghirupi aroma rumput yang basah karena embun adalah hiburan tersendiri. Suasana itu membuatku lupa sejenak dengan rangkaian rencana tentang pekerjaan yang akan kulakukan sepanjang hari. Membuat telaahan staf tentang A, menghadap Ibu B, memproses surat dari kantor C. Menyelesaikan laporan kegiatan pekan lalu. Hal-hal seperti itu yang membuat aku harus memulai hari dengan menikmati pagi yang permai.


Dari pucuk jejeran palem raja, kudengar cericit burung gereja, yang mungkin sama aktivitasnya denganku. Sedang menjemput rezeki.


Aku selalu berpikir setiap hari adalah seperti hari-hari lainnya. Bekerja kemudian nanti pulang ke rumah. Maka, jika terjadi peristiwa yang bahkan tidak pernah terlintas di pikiran mungkin itulah cara Allah menggerakkan hatiku.


Seperti hari ini, menjelang Dzuhur, seorang rekan kantor mengetuk pelan dinding kubikelku.

"Mbak, ada yang cari." 

Aku yang sedari tadi memakukan pandangan ke layar laptop mendongakkan kepala memandang ke arah yang ditunjukkan.

Kulihat seorang laki-laki seumuranku berdiri tersenyum menatapku.

Melihatnya sontak menerbitkan senyum di bibirku juga.

"Lhoh Mas Kardi, apa kabar?" aku berdiri menyambutnya. Lama sekali aku tidak berjumpa laki-laki itu meski kami tinggal dalam kota yang sama.

Mas Kardi adalah seorang kenalan lamaku, kami pernah bersama dalam sebuah pelatihan mewakili kantor masing-masing. Karenanya kami tidak pernah berteman akrab tapi tidak juga berarti tidak berteman.


Segera kuajak Mas Kardi  untuk duduk di ruang tunggu.


"Ada yang bisa aku bantu, Mas?"

"Iya, Mbak Alin. Aku mau pinjam uang" laki-laki itu tetap sama seperti yang pernah aku tahu. Selalu to the point.

"Kemarin aku kena musibah. Motorku rusak dan harus dibawa ke bengkel. Ternyata ongkos bengkelnya 125 ribu. Aku perlu menambah sedikit agar motorku bisa kuambil" kisahnya padaku.

"Istriku sedang pulang kampung, Mbak. Tau sendiri kan, udah biasa kalau semua penghasilan Bapak-bapak diserahkan ke istri. Yang aku pegang gak cukup" lanjutnya lagi.

"Mas perlu berapa?" tanyaku.

"Aku sudah punya 100 ribu. Jadi cuma perlu 25 ribu untuk menambah yang udah ada." jawabnya terdengar malu-malu.

Aku menahan diri untuk tidak terlihat terkejut. Dia bukan pengangguran. Kurasa pangkat golongannya malah lebih tinggi dari aku. Tapi untuk menggenapi 125 ribu saja ia sampai nyari aku? Ah sudahlah, aku tidak ingin banyak tanya. Mungkin memang sangat terdesak.

Segera kuambil tiga lembar uang 10 ribuan dari dalam dompet. 

"Ini Mas..." kuserahkan lembaran itu ke tangannya.

"Aku pinjam dulu ya, Mbak Alin. Aslinya aku malu ini, masa untuk nambah 25 ribu aja pakai pinjam"

"Gak usah, Mas. Pakai saja uang itu" 

"Terima kasih, Mbak... InsyaAllah nanti kalau istriku pulang, aku ganti."

Aku menggeleng memastikan agar Mas Kardi tidak perlu mengganti uang itu. 


Kuantar laki-laki itu sampai ke pintu keluar. Selepas kepergiannya. Aku kembali berpikir. Dari sekian banyak orang yang bisa dimintai tolong. Kenapa Mas Kardi malah datang ke aku ya? Kami tidak pernah bertukar kabar, bahkan aku tidak tahu nomer hp Mas Kardi. Apakah hikmah dari kejadian tak biasa ini? Aku beristighfar dalam hati.


Dan kemudian aku teringat pesan Ibu di kampung saat aku baru menikah.

"Alin, meskipun nanti suamimu sudah memberikan semua pendapatannya dan itu adalah hakmu, janganlah kamu biarkan dia gak pegang uang ya, Nak... Dia laki-laki dan mungkin juga punya keperluan mendadak. Buat beli bensin, ke bengkel. Atau untuk ngasih ibunya. Atau untuk sumbangan, kalau suamimu harus minta dulu ke kamu itu akan merepotkan. Kamu kan bisa saja gak ada disampingnya." begitu pesan ibuku dulu. 

Dan pesan itulah yang kuikuti hingga hampir 11 tahun aku menikah. Beberapa sahabatku pernah memprotes karena mereka penganut aliran semua uang suami adalah uang istri. Laki-laki jangan dibiarkan pegang uang banyak. Nanti bisa macam-macam.

"Kenapa kalian yang protes? Sementara aku merasa baik-baik saja?" Begitu saja jawabanku pada mereka waktu itu . 


Malam hari setelah pertemuan itu, Aku dan suamiku masih duduk di ruang tengah. Masing-masing dengan buku bacaan di tangan. Tapi, peristiwa tadi siang terus terngiang dalam ingatanku. 

"Yah... pernah dalam kondisi gak punya uang sama sekali dan kemudian harus ada pengeluaran lebih?" tanyaku tiba-tiba.

"Kenapa tanya begitu?" Suamiku bertanya balik sambil menutup buku yang ia baca. 

Dan mengalirlah cerita pertemuanku dengan Mas Kardi tadi siang. Suamiku mendengarkan dengan seksama. Sikapnya yang tenang itulah yang selalu memikat hatiku.


"Aku minta maaf, tadi ngasih Mas Kardi gak izin Ayah dulu. Aku tadi teringat Ayah. Jika Ayah dalam kondisi yang sama tentu bikin aku sedih" ungkapku menutup cerita.


"Iya, gak apa-apa. Untuk seorang laki-laki, terutama jika ia laki-laki baik. Tidak mudah untuk bisa meminta tolong seperti itu, Bunda. Ia pasti telah menyingkirkan harga dirinya untuk bisa berbuat seperti itu." kata suamiku menjelaskan dari sudut pandangnya.


"Tapi, menjawab pertanyaan Bunda tadi... Alhamdulillah, aku gak pernah dalam kondisi seperti itu sih. Bunda kan selalu meminta aku membawa kartu ATM, dan isinya gak pernah Bunda biarkan kosong. Mungkin akan beda cerita kalau penghasilanku harus disetorkan semua ke Bunda" sambungnya lagi.


"Setoran.... Kok istilah itu membuatku merasa aku ini semacam juragan angkot, Yah?" timpalku setengah protes.


Suamiku tersenyum mendengarnya. Lalu lanjut berkata,  "Alhamdulillah, karena kita selalu dicukupkan oleh Allah, dijauhkan dari kondisi sempit."


Kami berdua terdiam dalam rasa syukur atas kehidupan yang telah banyak diberikan kemudahan oleh Allah.

Dan entah perut siapa yang memulai. Tiba-tiba perut kami berdua kompak kruyukan. Sekali dua diabaikan, yang ketiga akhirnya...

"Ok, fix. Aku beli makanan" ujar Suamiku sambil beranjak dari sofa dan bergegas meraih kunci motor.

"Tapi...."

"Terserah aku kan makanan apa?"

"Iya deh...." 


Setengah jam kemudian....

"Bunda, ambilin nasi, piring, sendok"

"Kita mau makan apa?"

"Capcay kuah"


Salah satu contoh kecil keuntungan suami pegang duit sendiri ya begini. Bisa ditraktir makan kapan saja, tanpa aku harus buka dompet. Jika sudah begini malam terasa semakin sempurna. Meskipun bisa dipastikan lingkar pinggang akan jauh dari bentuk sempurna. (***)


Penulis


Siska Rostika



Baca Juga

Cerpen:Pisau Istri

Share:

Berita Lainnya