Sumber foto: wikipedia

10 Kali Lebih Berbahaya Di Atas Ganja Dan Kokain

Dilema Manfaat Daun Kratom

POJOKALTIM, SAMARINDA- Pemerintah Kota Samarinda mengeluarkan edaran mengenai pelarangan dan penggunaan daun kratom. Dalam butir surat tertanggal 14 Januari 2021 itu menyebutkan, dalam penggunaan dosis tinggi memiliki efek sebagai sedative narkotika. Lantas, seperti apa daun kratom ini? Mengapa hingga dikategorikan sebagai salah satu jenis narkotika?



Dari berbagai sumber menyebutkan, pelarangan daun kratom sebenarnya sudah sejak 2019. Pemerintah Indonesia melalui Badan Narkotika Nasional (BNN) sudah mengelompokkan daun kratom sebagai golongan I narkotika. Penggunaanya sebagai bahan baku suplemen dan obat herbal pun sudah dilarang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).



Untuk diketahui, kratom (Mitragyna speciosa) merupakan pohon tropis yang masuk dalam family kopi. Tumbuhan ini umumnya ada di Thailand, Myanmar, Malaysia, dan negara-negara Asia Selatan lainnya. Di Kalimantan, tumbuhan ini banyak ditemukan. Sebab, kratom masih dianggap sebagai tumbuhan liar.



Daun, atau ekstraknya digunakan sebagai stimulan dan obat penenang. Daun ini juga disebut bisa mengobati sakit kronis, masalah pencernaan, dan sebagai bantuan untuk menghilangkan ketergantungan opium.



Dalam kacamata hukum, tiap negara memandang berbeda mengenai status kratom. Daun ini legel di beberapa bagian negara Amerika. Namun bagi Thailand, Australia, Malaysia, dan Indonesia, penggunaan daun kratom ilegal.



Dalam penggunaan dosis rendah, kratom bekerja seperti stimulan. Efeknya, menjadikan pengonsumsinya merasa lebih berenergi, lebih waspada, dan lebih mudah bersosialisasi.



Namun pada penggunaan dosis yang lebih tinggi, kratom digunakan sebagai obat penenang, menghasilkan efek euforia, menumpuk emosi, dan sensasi. 



Bahan aktif utama kratom adalah alkaloid mitragynine dan 7-hydroxymitragynine. Alkaloid ini memiliki efek analgesik atau menghilangkan rasa sakit, anti-inflamasi, atau relaksasi otot. Karenanya, kratom sering digunakan untuk meredakan gejala fibromyalgia.



Sebelum dikonsumsi, daun ini biasanya dikeringkan dan dihancurkan atau dijadikan bubuk. Umumnya bubuk kratom juga akan dicampur dengan daun lain sehingga warnanya bisa hijau atau cokelat muda.



Penyajian kratom juga bervarian. Yakni tersedia dalam bentuk pasta, kapsul, dan tablet. Di Amerika Serikat, kratom sebagian besar diseduh sebagai teh untuk mengurangi rasa sakit dan efek opioid. Tak heran, pasar ekspor kratom menyasar negeri Paman Sam tersebut. Mengingat permintaannya yang cukup besar.



Menurut Pusat Pemantauan Obat dan Kecanduan Narkoba Eropa (EMCDDA), kratom dengan dosis kecil menghasilkan efek stimulan yang biasanya terjadi 10 menit setelah pemakaian dan dapat bertahan hingga 1,5 jam.



Di negeri sendiri, pemerintah sudah aktif mengkonter peredarannya. Badan Narkotika Nasional (BNN) terus mendorong pemerintah untuk melarang peredaran tanaman kratom. BNN menyebut kratom sebagai tumbuhan yang tingkat bahayanya 10 kali lipat di atas ganja dan kokain.



Sebab itu, BNN kini tengah memproses kratom masuk ke dalam Golongan 1 narkotika. Penyebabnya, tanaman yang biasa digunakan sebagai obat itu mengandung opioid, alkaloid mitraginin, dan 7-hydroxymitragynine yang bisa mengakibatkan kecanduan.



Sejak lima tahun belakangan, kratom tengah menjadi polemik di antara peneliti dan pembuat kebijakan. Ketika para peneliti masih terus melakukan riset untuk memastikan efek samping penggunaan kratom, para pemangku kebijakan malah takut kratom disalahgunakan.




Kratom berpotensi memiliki efek kuat pada tubuh. Kratom mengandung hampir semua alkaloid seperti opium dan jamur halusinogen.



Alkaloid memiliki efek fisik yang kuat pada manusia. Sementara beberapa dari efek ini dapat menjadi positif. Ini adalah alasan mengapa studi lebih lanjut dari kratom diperlukan. (aka)

Share: