"Meneruskan Usaha Keluarga Bukan Sekadar Margin"

Kisah Singkat Kartika Rachmawati, Generasi Ketiga Penerus Usaha Keluarga

POJOKALTIM, SAMARINDA - Bukan melulu soal margin. Tapi bagaimana agar tetap eksis dan berkembang, menjadi tantangan tersendiri bagi generasi penerus perusahaan keluarga. Kartika Rachmawati, mungkin salah satu yang mengalaminya. Berikut kisah singkatnya.



Bagi perempuan kelahiran Jakarta, 14 Oktober 1981 ini, meneruskan usaha milik keluarga terbilang gampang-gampang susah. Gampangnya, dirinya tinggal meneruskan sistem yang sudah berjalan. Perusahaan eksis atau bahkan kolaps, hal inilah yang merupakan tanggung jawab moral kepada orangtua dan almarhum kakeknya sebagai pendiri.



Ya, Kartika, merupakan generasi ketiga memegang kendali tongkat estafet PT Ramisal Gas. Perusahaan ini merupakan satu dari tak lebih 3 perusahaan pada era 1986 yang menjadi mitra Pertamina mendistribusikan tabung gas elpiji.



Pada tahun itu, pemerintah mulai mensosialisasikan penggunaan gas elpiji sebagai pengganti minyak tanah. Bukan perkara mudah, terlebih di era itu dimana penyebarluasan informasi masih sangat terbatas, memahamkan kepada warga untuk beralih ke elpiji. 



Ringkas cerita, seiring pegurangan produksi minyak tanah hingga akhirnya produksinya dihentikan, penggunaan elpiji terus bertambah dan meluas. Tak ayal, ini berpengaruh positif terhadap perusahaan. Jumlah pangkalan yang semula hitungan jari, kini terus membesar. Hingga saat ini, PT Ramisal Gas membawahi 36 pangkalan yang tersebar di Samarinda.



Masuk ke generasi kedua, perusahaan ini awalnya dikelola keroyokan 15 saudara. Namun, sepanjang perjalanan, tak semua anggota di generasi kedua meneruskan usaha ini. Satu persatu cabut. Ingin mencari jati diri sendiri dengan membuka usaha lain. Tinggal orangtua Kartika yang juga anak sulung, meneruskan.



"Sejak orangtua saya pegang kendali, saya turut membantu. Namun dalam prosesnya, saya tidak dipaksakan untuk meneruskan usaha ini. Saya bersyukur, keluarga saya demokratis," ucapnya.



Meski begitu, pada satu titik, akhirnya ia pun mau memegang tongkat estafet. Berbekal pengalaman ketika ia membantu kedua orangtua, Kartika pun terus menjalankan roda perusahaan. Bahkan, dirinya kini sudah melahirkan anak perusahaan baru yang juga bergerak di bidang sama. "Ini tadi yang saya garis bawahi. Bahwa memegang perusahaan keluarga bukan atas berapa Rupiah yang kita berikan ke orangtua. Namun lebih kepada bagaimana agar roda perusahaan ini terus berputar dan berkembang," urainya.



Namun demikian, ibu 3 anak ini mengatakan bahwa dirinya tak akan menambah usaha serupa. Semisal mendirikan SPBE. Bahkan dirinya juga sudah ditawari untuk membangun SPBU. Namun ia tolak. 



"Saya ingin mencoba usaha bidang lain. Saat ini, saya tengah membangun ekosistem usaha di luar migas. Saya sekarang membuka usaha coffee shop, laundry, kurir, dan selanjutnya media. Semua itu di bawah naungan brand Lokal. Ke depan, kami akan bangun perusahaan kosmetik," sebutnya.



Disinggung mengenai generasi keempat apakah sudah siap melanjutkan, Kartika mengatakan, sama seperti orangtuanya dulu, dia tak memaksa anaknya untuk meneruskan bisnis elpiji ini. Makanya, dia membebaskan anaknya kuliah di jurusan sesuai keinginan. 



"Anak pertama saya kuliah di bidang farmasi. Sebentar lagi lulus. Makanya, ke depan kami akan bikin produk kosmetik untuk mengakomodasi keahlian anak saya itu," jelasnya.



Namun, semua bisa saja berubah. Sama seperti dirinya yang pada mulanya menolak mengelola perusahaan keluarga. (aka)

Share: