Kebisaannya memasak soto Lamongan ia jadikan bekal melanjutkan hidup.

Selama Pandemi, Sehari Terjual 40 Mangkok

Kisah Aris Saputro Berjualan Soto Lamongan

KEPUTUSAN perusahaan sudah final. Per 1 Juni 2020, Aris masuk dalam daftar karyawan yang di PHK. Celakanya, sang istri juga mengalami nasib serupa. Istrinya juga kena dampak efisiensi di tempatnya bekerja, di sebuah perusahaan ritel besar di Tanah Air.

Aris Saputro, nama lengkapnya. Ia satu dari jutaan karyawan yang kena imbas kemerosotan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Perusahaan besar, apalagi skala kecil, terombang ambing dalam badai yang entah sampai kapan reda.

Sedih, sudah pasti. Namun bukan berarti menyerah dengan keadaan. Otaknya berpikir cepat. Ia mesti melakukan sesuatu guna melanjutkan hidup dan kehidupan normalnya.

Berbekal kemampuannya memasak soto Lamongan, dibantu sang mbah, ia pun langsung gas pol. Tanpa babibu, uang pesangonnya ia jadikan modal.

"Dua hari setelah saya kena pengurangan karyawan, saya dapat info ada tempat di depan bandara APT Pranoto yang bisa digunakan untuk berjualan. Ya saya langsung datangi yang punya tempat," terang Aris, mengawali cerita sembari meracik semangkok soto Lamongan pesanan Pojokaltim.

Klop, sang pemilik warung bersedia. Maka, kerjasama kedua belah pihak pun dijalani dan disepakati. Aris tak perlu menyewa, namun sang pemilik mengenakan charge sekian rupiah di tiap mangkok soto yang terjual. Deal, usaha pun langsung dia jalankan.




Tempat berjualan sudah ia dapat. Usaha sudah berjalan. Langkah selanjutnya, Aris mempromosikan dagangannya di sosmed. Baik di status WA nya, maupun share di grup grup publik di Facebook. Tiap hari.

Alhasil, pelanggan mulai berdatangan. Baik kawan maupun mantan kawan kerja sekantornya dulu, makan di tempatnya.

Namun, kata dia, pelanggannya paling banyak dari penumpang travel. Maklum saja, tempat warung tersebut terbilang luas. Tempat parkirnya mampu menampung puluhan roda 4.

Selain tempat duduk, juga disediakan lesehan lengkap dengan kamar mandi dan wc. Yang mau solat, juga ada musala.

Dengan supir travel, Aris menerapkan trik yang umumnya digunakan para pemilik warung di pinggir jalan antar kota. Yakni, tiap supir bisa dapat makan gratis tiap bawa penumpang yang makan di tempatnya. "Bisa juga supir supir itu saya kasih tips,"imbuhnya.





Tak heran, warungnya saat itu ramai akan kendaraan roda 4 yang parkir. Mereka semua, supir travel. Sebagian supir terlihat baring baring di lesehan. Ada yang memang tengah membawa penumpang, ada juga yang bercengkrama sesama supir sembari menunggu kedatangan pesawat. "Malah ada juga yang menginap. Daripada mereka balik ke rumah tanpa penumpang," kata Aris.

Kembali soal soto. Dikatakannya, dalam sehari terjual rata rata 40 mangkok. Di masa pandemi seperti saat ini, jumlah tersebut terbilang bagus. Semua hasil tetap ia syukuri. Ia berkeyakinan, kelak jika era pandemi sudah lenyap, mangkok yang terjual dipastikan melebihi dari jumlah sekarang. "Sekarang yang penting istiqomah," tegasnya.Nah yang mau makan soto Lamongan, sila mampir ke warung Soto Lamongan Mas Aris. Posisinya persis di depan bandara APT Pranoto. Dijamin puas. "Sudah, kenyang kenyang," pungkas Aris. (aka)

Share: