Boleh Mutasi Atlet Guna Perkembangan Prestasi

Seminar Keolahragaan Bidang Hukum KONI Samarinda

PERPINDAHAN, mutasi, atau biasa dikenal dengan transfer atlet, merupakan hal biasa dalam dunia olahraga. Namun, semua perlu proses dan wajib mematuhi peraturan.


Berangkat dari hal itu, Bidang Hukum KONI Samarinda helat seminar keolahragaan di Hotel Royark Park Samarinda (26/9). Hadir narasumber praktisi hukum advokat Kongres Advokat Indonesia (KAI) Kaltim A.P Iskandar SH, MHum, dan Dosen Fakultas Hukum yang juga Wakil Dekan I Bidang Akademik Untag 1945 Samarinda Dr Isnawati SH, MH. Turut pula perwakilan pengurus cabang olahraga (cabor).


Dalam pemaparannya, Isnawati menyampaikan perpindahan olahragawan sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007. Khususnya pasal 58 ayat 1 hingga 4.


Syarat mutlak perpindahan di antaranya atlet yang bersangkutan sudah dapat izin tertulis dari perkumpulan/klub, izim dari organisasi setempat dan dapat pengesahan dari induk organisasi cabang olahraga. Juga harus memenuhi ketentuan Federasi Olahraga Internasional dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.


"Mutasi pun merupakan hak atlet. Dengan alasan perpindahan lokasi pendidikan, pekerjaan, mengikuti orangtua/suami/istri," jelasnya.


Batas waktu perpindahan atlet dalam kurun waktu 2 tahun sebanyak 2 kali. Selanjutnya, atlet tersebut menjadi binaan KONI yang bersangkutan.


Iskandar memaparkan beberapa peraturan mutasi atlet berdasarkan Surat Keputusan KONI pusat.


Ditegaskannya, pelaksanaan mutasi atlet harus berdasar prosedur yang benar dan tidak melawan hukum.


Bila mutasi atlet bermasalah atau ditenggarai adanya cacat hukum dan inproseduril memiliki berbagai akibat fatal bagi masing masing pihak, maka yang bersangkutan tidak bisa ikut bertanding dalam event apapun.


Dalam sambutannya, Ketua KONI Samarinda Aspian Noor berharap, peserta seminar dapat mengetahui seluk beluk proses mutasi atlet. (aka/adv)

Share: