ilustrasi

Benarkah Gara-Gara Skripsi Mahasiswa Gantung Diri?


Kejadian seorang mahasiswa yang nekat gantung diri dengan dugaan karena skripsinya yang dipersulit, menjadi perhatian besar masyarakat. Sebegitu mengerikannyakah tekanan yang didapat saat mengerjakan skripsi, terlebih bagi kalangan mahasiswa yang sudah memasuki angkatan cuci gudang.


Hal ini ditanggapi serius oleh Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda, Herry Farjam. Menurutnya perlu diselidiki lebih jauh, apa benar motif yang melatarinya terkait persoalan skripsi.


"Itu kan baru dugaan? Bisa jadi karena ada persoalan lain, mungkin masalah asmara atau keuangan?," ujarnya mempertanyakan.


Menurut dosen muda itu, persoalan menyusun skripsi memang menjadi hal baru bagi seorang mahasiswa di tingkatan diploma atau sarjana. Sehingga, segala sesuatu yang baru dikerjakan pastinya memiliki tingkatan kerumitan tersendiri sebagai sebuah tantangan. Namun ia menolak jika alasan tersebut dijadikan alasan untuk mengakhiri hidup dengan cara tak wajar.


"Jadi begini, seorang dosen memiliki standar target tersendiri untuk menaikkan level intelektual mahasiswanya. Hal inilah yang seharusnya dipahami, bukan bermaksud menyulitkan," tegasnya saat berbincang di Kafe Antara Samarinda, Rabu (15/7).


Herry malah sedikit menyinggung terkait dihilangkannya orientasi kampus yang dinilainya memiliki arti penting dalam membangun mental. Secara lugas ia membandingkan karakter mahasiswa sekarang yang dinilai kurang memiliki karakter kuat. Apalagi menyandang status kaum intelektual, mental kuat adalah modal utama untuk terjun langsung selepas menyelesaikan studinya.


Lebih jauh dosen yang juga mantan jurnalis ini mengatakan tak ada istilah dosen killer. Sebagai tenaga pendidik, memang kerap terlihat dosen menyulitkan mahasiswanya. Tetapi hal itu semata agar yang bersangkutan layak menyandang gelar akademik. (cuk)

Share:

Berita Lainnya